Berita

NMC Nikel Mangan Kobalt Jadi Kunci: Pemerintah Dorong Tambang Listrik Lewat Hilirisasi Nikel

7
×

NMC Nikel Mangan Kobalt Jadi Kunci: Pemerintah Dorong Tambang Listrik Lewat Hilirisasi Nikel

Sebarkan artikel ini

Teras News — Nikel mangan kobalt (NMC) — tiga kata yang kini disebut pemerintah sebagai kunci elektrifikasi sektor pertambangan Indonesia. Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kementerian Perindustrian, Solehan, menegaskan bahwa hilirisasi nikel bukan semata soal lingkungan, melainkan soal posisi Indonesia dalam rantai pasok industri baterai global.

Pernyataan itu disampaikan Solehan dalam forum EV Transition in Mining Industry Outlook 2026, Rabu (29/4/2026). Di hadapan para pelaku industri, ia menyebut tekanan dari investor global soal ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola) sudah tidak bisa diabaikan lagi oleh industri dalam negeri.

“Perkembangan teknologi global ini bergerak semakin cepat, kemudian ESG ini menjadi indikator utama bagi investor global. Kondisi ini kita lihat sebagai momentum transformasi menuju operasional yang lebih bersih,” kata Solehan.

Indonesia Bidik Posisi Produsen, Bukan Sekadar Pemasok Bahan Mentah

Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia. Tapi Solehan ingin lebih dari itu. Ia mendorong agar Indonesia tidak berhenti di ekspor bahan mentah, melainkan masuk ke produksi komponen teknologi baterai.

“Nah, ini Indonesia mulai mempunyai peluang yang kuat dalam pengembangan supply chain di komponen itu termasuk di baterai. Di sini kan nikel, berarti nanti NMC ya, Nikel Mangan Kobalt, itu yang perlu kita hilirisasi,” ujarnya.

NMC merupakan salah satu jenis kimia baterai yang banyak digunakan pada kendaraan listrik karena menawarkan keseimbangan antara kepadatan energi, usia pakai, dan stabilitas termal. Nikel menjadi komponen dominan dalam formulasi tersebut, dan Indonesia memegang cadangan nikel terbesar di dunia.

Pengembangan smelter dan industri turunan nikel, menurut Solehan, mampu menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dibanding ekspor bijih mentah. Dari situ pula, peluang produksi komponen alat berat berbasis listrik di dalam negeri terbuka lebih lebar.

Elektrifikasi Tambang Diarahkan Jadi Penggerak Manufaktur

Solehan menekankan satu hal yang kerap luput dari diskusi elektrifikasi: sektor pertambangan seharusnya tidak sekadar menjadi pengguna teknologi kendaraan listrik, tetapi turut menggerakkan industri manufaktur nasional.

“Hal ini memang menjadi modal penting agar elektrifikasi di sektor pertambangan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga mendorong pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri itu sendiri,” kata Solehan.

Artinya, truk tambang listrik, alat berat bertenaga baterai, hingga sistem pengisian daya di lokasi tambang idealnya diproduksi, atau setidaknya dirakit, di Indonesia. Bukan diimpor utuh dari luar negeri.

Pemerintah menilai perubahan arah industri ini bukan lagi pilihan. Tren global yang mendorong operasional industri lebih bersih dan berkelanjutan kini datang bersamaan dengan tekanan nyata dari investor dan pasar internasional yang mensyaratkan standar ESG dalam portofolio mereka.

Seberapa cepat sektor tambang Indonesia bisa bergerak dari wacana ke adopsi nyata kendaraan listrik di lapangan, itulah pertanyaan yang kini menggantung di forum-forum industri seperti yang digelar pekan ini.

Penulis: Siti Rahma
Editor: Arif Budiman