Berita

Larungan Telaga Ngebel: Tradisi Syukur Empat Desa yang Kini Jadi Prosesi Besar di Ponorogo

7
×

Larungan Telaga Ngebel: Tradisi Syukur Empat Desa yang Kini Jadi Prosesi Besar di Ponorogo

Sebarkan artikel ini

Teras News — Empat desa di sekitar Telaga Ngebel, Ponorogo, selama puluhan tahun menjalankan upacara adat secara terpisah sebagai bentuk syukur atas keberadaan telaga yang menjadi sumber penghidupan mereka. Kini, tradisi itu berkembang menjadi prosesi besar bernama Larungan Telaga Ngebel yang masuk dalam rangkaian Grebeg Suro.

“Tradisi yang sudah berlangsung lama dan turun temurun di lingkungan warga Desa Wagir Lor, Desa Ngebel, Desa Sahang, dan Desa Gondowido,” kata Fibi Chandra, sekretaris panitia Larungan Telaga Ngebel 2026.

Bergabung Sejak 1992, Masuk Rangkaian Grebeg Suro

Titik balik tradisi ini terjadi pada 1992. Pemerintah Kecamatan Ngebel mengkoordinasikan empat desa itu untuk menjalankan larungan secara bersama. Sejak saat itu, prosesi yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri melebur menjadi satu kegiatan yang melibatkan seluruh masyarakat kawasan Telaga Ngebel.

“Prosesinya hampir sama dan pelaksanaannya tetap bulan Suro. Larungan akhirnya juga masuk rangkaian Grebeg Suro,” terang Fibi.

Grebeg Suro sendiri merupakan festival tahunan khas Ponorogo yang digelar setiap 1 Suro (1 Muharram dalam kalender Hijriah), memadukan berbagai tradisi budaya Jawa dalam satu perayaan besar. Larungan Telaga Ngebel kini menjadi salah satu prosesi yang paling ditunggu dalam rangkaian tersebut.

Sempat Berganti Nama, Makna Tidak Berubah

Perjalanan tradisi ini bukan tanpa dinamika. Penyebutannya berubah beberapa kali, dari Larung Sesaji hingga Larung Risalah Doa. Setelah berbagai pertimbangan dan masukan dari para sesepuh, nama Larungan Telaga Ngebel akhirnya dipilih dan digunakan hingga sekarang.

Fibi menegaskan pergantian nama itu tidak menggeser esensinya. Inti dari tradisi ini adalah ungkapan rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan melalui telaga. “Tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga mendukung sektor pertanian dan perikanan melalui hasil bumi, ikan, kesuburan tanah, serta sejumlah potensi ekonomi yang lain dari sektor pariwisata,” urainya.

Makna itu terwujud dalam simbol utama prosesi: beragam hasil bumi disusun dalam bentuk buceng (tumpeng dari berbagai bahan pangan) lalu dilarung ke tengah telaga. “Sebagian rezeki yang diperoleh masyarakat dikembalikan kepada Sang Pencipta. Kalau istilah orang Jawa, dikembalikan kepada pemiliknya. Itu makna utama dari larungan,” ujar Fibi.

Wedus Kendit dan Lampah Ratri, Ritual Penuh Filosofi

Puncak prosesi ditandai dengan melarung Buceng Agung ke tengah telaga. Gunungan utama itu dibuat dari campuran nasi dan ketan agar kokoh selama upacara berlangsung.

Malam 1 Muharam atau 1 Suro menjadi waktu sakral yang memuat rangkaian ritual tersendiri. Salah satunya adalah jamasan wedus kendit, yaitu ritual memandikan kambing berkulit hitam dengan garis putih melingkar di bagian perut menyerupai sabuk. “Wedus kendit memiliki filosofi tentang keterhubungan dan kesinambungan. Garis putih yang tidak terputus menjadi simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat yang hidup di sekitar Telaga Ngebel,” ungkap Fibi.

Setelah jamasan, upacara berlanjut dengan larung rudiro dan pembuatan cok bakal yang ditanam di sejumlah titik di sekeliling telaga. Rangkaian malam ditutup dengan Lampah Ratri, tradisi berjalan mengelilingi telaga sambil membawa obor sebagai simbol doa dan harapan. Jumlah obor mengikuti bilangan Tahun Saka.

Dengan memilih waktu bertepatan pergantian Tahun Hijriah, larungan ini bukan sekadar ritual budaya. Bagi warga empat desa yang telah menjaga tradisi ini turun-temurun, prosesi itu sekaligus menjadi sarana refleksi diri menyambut tahun baru.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Ratna Dewi