Berita

Lahan Tidur Nusakambangan Kini Hasilkan Padi, Anggur, hingga Sidat, DPR Minta Daerah Lain Ikuti

8
×

Lahan Tidur Nusakambangan Kini Hasilkan Padi, Anggur, hingga Sidat, DPR Minta Daerah Lain Ikuti

Sebarkan artikel ini

Teras News — Pulau Nusakambangan yang selama ini dikenal sebagai lokasi penjara keamanan tinggi kini menyimpan cerita berbeda. Lahan-lahan tidak produktif di sekitar lembaga pemasyarakatan (lapas) di pulau itu telah berubah menjadi kawasan penghasil padi, anggur, udang, sidat, hingga ayam ternak, setelah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menggarapnya sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional.

“Kami melihat lahan yang sebelumnya tidak produktif kini menjadi lahan produktif, mulai dari padi, anggur, peternakan ayam, budi daya udang hingga sidat,” kata Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, yang lebih dikenal dengan nama Titiek Soeharto, usai mengunjungi sejumlah lokasi kegiatan ketahanan pangan di berbagai lapas Nusakambangan, Sabtu (20/6).

Warga Binaan Ikut Garap Lahan, Dapat Bekal Keterampilan

Yang membedakan program ini dari proyek pertanian biasa adalah siapa yang mengerjakan lahannya. Warga binaan pemasyarakatan, atau narapidana, dilibatkan langsung dalam proses produksi. Mereka tidak sekadar bekerja, tapi juga menerima pelatihan keterampilan pertanian dan perikanan, ditambah premi atau upah atas pekerjaan yang mereka lakukan.

Bagi warga binaan yang masih menjalani masa hukuman, keterampilan ini bisa menjadi modal nyata ketika nanti mereka kembali ke masyarakat.

“Yang lebih penting lagi, program ini melibatkan warga binaan. Sebelum mereka kembali ke masyarakat, mereka dibekali keterampilan dan mendapatkan premi dari pekerjaan yang dilakukan sehingga dapat menjadi bekal saat bebas nanti,” ujar Titiek.

Titiek Soeharto: Kalau Nusakambangan Bisa, Daerah Lain Lebih Bisa

Titiek menyebut hasil yang dicapai lapas-lapas di Nusakambangan layak dijadikan contoh bagi daerah atau instansi lain yang memiliki lahan potensial. Pulau yang dulunya hanya dikenal sebagai kawasan penjara itu kini membuktikan bahwa pengelolaan lahan secara serius bisa menghasilkan produksi pangan nyata.

“Kalau Nusakambangan saja bisa seperti ini, apalagi daerah lain. Indonesia memiliki tanah yang subur dan sumber daya alam yang besar. Tinggal bagaimana kita mengolah bumi dan laut ini agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” kata Titiek.

Komisi IV DPR, yang membidangi urusan pertanian, pangan, dan lingkungan hidup, juga menyampaikan apresiasi resmi kepada Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) atas pengelolaan program ini. Titiek secara khusus menyebutkan Menteri Imipas Agus Andrianto beserta jajaran dalam ucapan terima kasihnya.

“Saya atas nama Komisi IV DPR RI mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menteri Imipas beserta jajarannya. Mudah-mudahan ini bisa ditiru dan diduplikasi di tempat-tempat lain,” kata Titiek.

Kunjungan DPR Jadi Masukan untuk Penyempurnaan Program

Menteri Imipas Agus Andrianto menyambut kunjungan Komisi IV DPR RI sebagai masukan penting untuk menyempurnakan program ketahanan pangan yang tengah berjalan di lingkungan pemasyarakatan. Program serupa juga sudah berjalan di tempat lain, termasuk di Lapas Warungkiara yang mengelola lahan tidur seluas 7 hektare.

Program ketahanan pangan di lapas-lapas ini masuk dalam agenda prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang menargetkan swasembada pangan nasional. Nusakambangan, dengan luas lahan yang tersedia di sekitar kompleks lapas, kini menjadi salah satu titik percontohan yang dinilai berhasil menggabungkan fungsi pemasyarakatan dengan produksi pangan.

Penulis: Indah Lestari
Editor: Surya Dharma