Teras News — 47 orang tewas di Lebanon. Itu harga yang harus dibayar sebelum Israel dan Hizbullah akhirnya sepakat menghentikan tembak-menembak pada Jumat (19/6/2026) pukul 16:00 waktu setempat — sebuah kesepakatan yang datang di saat kritis ketika pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran nyaris buyar.
“Hizbullah dan Israel telah menyepakati gencatan senjata. Setelah baku tembak yang terjadi sebelumnya hari ini, Israel dan Hizbullah kini berada dalam gencatan senjata,” kata seorang pejabat senior AS, dikutip Reuters, Sabtu (20/6/2026).
Kesepakatan itu datang sehari setelah serangan Israel yang menewaskan sedikitnya 47 warga Lebanon dan 4 tentara Israel. Para pejabat dari kedua pihak menyatakan akan mematuhi gencatan senjata, dengan catatan tidak ada yang lebih dulu melanggar.
Baca Juga:
Serangan Israel Batalkan Pertemuan AS-Iran di Swiss
Serangan Israel ke Lebanon pada Jumat (19/6/2026) melumpuhkan agenda diplomatik yang sudah tersusun. Pertemuan lanjutan antara AS dan Iran di Burgenstock, Swiss, batal terlaksana. Wakil Presiden JD Vance pun urung berangkat ke sana.
Pembatalan itu terjadi tepat sehari setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) damai dengan Iran di Istana Versailles, Perancis, Rabu (17/6/2026), di sela KTT G7. MoU yang memuat 14 poin tersebut juga diteken oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Iran menjadikan pengakhiran konflik di Lebanon sebagai salah satu syarat dalam proses pembicaraan damai. Serangan Israel ke Hizbullah praktis mengguncang fondasi perundingan yang baru saja dibangun itu.
Trump Klaim Bisa Kendalikan Israel
Jumat pagi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan lewat media sosial bahwa ia telah memerintahkan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyerang Hizbullah. Pengumuman itu muncul hanya beberapa jam setelah MoU Iran-AS diteken.
Trump mengaku telah mendesak Israel untuk menyepakati gencatan senjata. Dalam wawancara dengan NBC News, Trump tidak mengungkapkan apakah ia berbicara langsung dengan Netanyahu. Ia hanya menyebut hubungan keduanya “akur”.
Kepada reporter Axios, Trump lebih tegas. Ketika ditanya apakah ia mampu mengendalikan Israel agar tidak menyerang Lebanon, Trump menjawab, “Ya, saya akan mampu. Mereka sangat menghormati saya, dan mereka melakukan apa yang saya katakan.”
Soal MoU yang baru diteken, Trump menyebutnya dengan antusias. “Ini seperti pelengkap yang sempurna,” katanya dalam wawancara dengan CNN International, Sabtu (20/6/2026).
Gencatan Senjata Buka Kembali Jalur Diplomasi
Dengan gencatan senjata yang kini berlaku, pembicaraan lanjutan AS-Iran diharapkan bisa kembali dijadwalkan. Kedua negara sebelumnya sudah memutuskan untuk melanjutkan perundingan pasca penandatanganan MoU, sebelum serangan Israel membekukan prosesnya.
Konflik Israel-Hizbullah sudah berlangsung lama dan berulang kali mengalami eskalasi. Kali ini, tekanan diplomatik dari Washington tampaknya berhasil mendorong kedua pihak ke meja yang sama, setidaknya untuk sementara. Pertanyaan berikutnya: apakah gencatan senjata ini akan bertahan cukup lama untuk memberi ruang bagi perundingan AS-Iran yang lebih substantif.
Editor: Surya Dharma