Berita

Jusuf Kalla Tegaskan Ceramah di Masjid UGM Hanya Bahas Perdamaian, Bukan Penistaan Agama

13
×

Jusuf Kalla Tegaskan Ceramah di Masjid UGM Hanya Bahas Perdamaian, Bukan Penistaan Agama

Sebarkan artikel ini

Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla akhirnya angkat bicara secara terbuka soal ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) yang viral dan berbuntut laporan polisi. Dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu, JK — sapaan akrabnya — menegaskan bahwa ceramah tersebut murni membahas tema perdamaian, bukan penistaan agama.

“Acara di UGM itu, acara ceramah pada bulan puasa, seperti dilakukan di mana-mana, di masjid. Saya diundang, datang, karena temanya adalah perdamaian. Jadi, khususnya temanya tentang langkah-langkah ke perdamaian,” ujar JK dalam keterangan pers tersebut.

Ceramah itu sendiri disampaikan JK pada 5 Maret 2026, dalam rangka Ramadhan 1447 Hijriah, dengan judul Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar. Ceramah baru viral pada pertengahan April 2026, hampir enam minggu setelah disampaikan.

Bahas 15 Konflik, Termasuk di Indonesia

JK menjelaskan, dalam ceramah tersebut dirinya membahas perdamaian sebagai ujung dari sebuah konflik. Untuk mengilustrasikan konteks itu, JK memaparkan sejumlah konflik yang pernah terjadi, termasuk 15 konflik di Indonesia.

“Ada konflik karena ideologi kayak Madiun, ada konflik karena wilayah kayak Timtim (Timor Timur), ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu,” katanya.

Di antara konflik-konflik tersebut, JK juga menyinggung konflik yang berlatar belakang agama, seperti di Maluku dan Poso. Dalam konteks itulah muncul pernyataan yang kemudian memicu polemik.

JK menjelaskan bahwa kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik berlatar agama itu memiliki konsep serupa soal kematian dalam membela keyakinan. Dalam Islam, konsep itu dikenal sebagai syahid, sementara dalam Kristen dikenal sebagai martir.

“Saya berada di masjid dan jamaah tidak mengerti martir. Jadi, saya katakan, ya karena hampir sama, syahid dan martir hampir sama. Cuma beda caranya,” ujar JK.

JK menambahkan, pemilihan kata syahid dalam ceramah itu semata karena konteks audiens. “Jadi, hanya istilah saja, tetapi karena saya di masjid maka saya pakai kata syahid. Karena kalau saya pakai kata martir, jamaah tidak tahu,” katanya.

Pesan untuk Calon Pemimpin

JK juga menyampaikan bahwa ceramah itu disampaikan dengan tujuan agar para mahasiswa UGM — yang disebutnya sebagai calon-calon pemimpin bangsa — tidak menjadikan agama sebagai sumber konflik.

“Jangan sekali-sekali agama dipakai untuk berkonflik, jangan! Anda calon-calon pemimpin, calon-calon pemimpin semua ini,” kata JK, mengutip kembali pesan yang disampaikannya dalam ceramah tersebut.

Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Sebelum konferensi pers ini, ceramah JK telah memicu langkah hukum. DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) melaporkan JK ke Polda Metro Jaya pada 12 April 2026, terutama terkait pernyataannya soal mati syahid dalam ceramah tersebut.

Polemik ini juga telah mendapat respons dari tingkat kementerian. Menteri HAM mendorong dialog sebagai jalan keluar atas polemik pernyataan Jusuf Kalla. JK sendiri sebelumnya juga telah menyampaikan permintaan maaf karena dinilai terlambat memberikan penjelasan atas pernyataan yang viral itu.

Dilansir dari laporan Antara.