Teras News — Kesehatan anak-anak Indonesia dan kedaulatan pangan bangsa ternyata sudah menjadi perhatian serius Presiden Pertama RI Soekarno jauh sebelum konsep ketahanan pangan menjadi isu global. Fakta ini mengemuka dalam kuliah umum yang disampaikan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto di hadapan sivitas akademika Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta, Kamis (24/4).
Hasto hadir sebagai pemateri dalam acara bertajuk Pemikiran Geopolitik Bung Karno, yang diselenggarakan dalam rangka Ulang Tahun ke-27 UBK. Ia menyampaikan kuliah di Aula Ir. Soekarno, kampus yang juga menjadi tempatnya mengajar sebagai dosen tetap.
Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika, Forum yang Lahir dari Visi Bung Karno
Dalam paparannya, Hasto menelusuri akar gagasan Bung Karno yang menginisiasi Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika. Forum internasional itu dirancang khusus untuk membahas metode dan pendekatan ilmiah dalam menciptakan generasi muda yang sehat dan cerdas di kawasan Asia dan Afrika.
Baca Juga:
“Kita berpikir tentang masa depan itu dari anak-anak kita. Bung Karno sudah memikirkan bagaimana anak-anak Indonesia itu sehat jasmani dan rohani,” kata Hasto.
Menurutnya, Bung Karno menyadari bahwa kecerdasan anak sangat erat kaitannya dengan gizi yang diterima sejak usia dini. Dari konferensi itulah muncul desakan agar pemerintah memastikan anak-anak Indonesia mendapat asupan makanan bergizi. “Menindaklanjuti Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika agar anak-anak Indonesia cerdas, maka harus ditopang dengan makanan yang bergizi,” ujar Hasto.
Mustika Rasa, Buku Setebal Seribu Halaman Warisan Bung Karno
Kesadaran akan pentingnya gizi lokal itu kemudian mendorong Bung Karno menginisiasi lahirnya buku kuliner nasional bernama Mustika Rasa. Buku setebal lebih dari seribu halaman ini mendokumentasikan kekayaan kuliner Nusantara dari Sabang sampai Merauke, semuanya berbahan baku lokal berkhasiat tinggi.
Hasto menegaskan buku itu bukan sekadar kumpulan resep. Ia menyebutnya sebagai dokumen strategis kedaulatan pangan nasional.
“Maka kemudian dalam kepemimpinan beliau, ada buku Mustika Rasa. Ini memuat suatu rahasia bagaimana Indonesia dengan kekayaan kuliner yang luar biasa, dengan bumbu-bumbuan yang bercita rasa surga,” kata Hasto.
Buku itu mencatat beragam bahan pangan lokal, mulai dari jagung, petai, cabai, kacang-kacangan, tempe, hingga tahu. Seluruh resepnya dirancang agar rakyat Indonesia, terutama anak-anak, bisa mendapat asupan bergizi tanpa bergantung pada bahan pangan asing.
Bung Karno Larang Ketergantungan Pangan pada Negara Lain
Pesan Bung Karno soal kedaulatan pangan, menurut Hasto, sangat tegas. Ketergantungan pada negara lain dinilai Bung Karno bisa melemahkan kedaulatan politik bangsa secara keseluruhan.
“Di sini Bung Karno mengatakan, dari lidah dan perut rakyat Indonesia tidak boleh terjajah oleh makanan impor,” tegas Hasto mengutip pesan Bung Karno.
Kuliah umum itu turut dihadiri sejumlah nama dari lingkaran PDIP dan dunia seni, di antaranya anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, penyanyi Once Mekel, serta Sofyan Tan.
Gagasan Bung Karno soal gizi dan kedaulatan pangan yang diulas Hasto dalam forum akademis ini muncul di tengah perdebatan nasional yang masih terus berlangsung soal ketergantungan Indonesia pada impor pangan, khususnya bahan-bahan pokok yang sebenarnya bisa diproduksi dari sumber daya lokal.
Editor: Ratna Dewi