Teras News — Rabu pekan ini, di tengah tekanan nilai tukar dolar AS yang terus menguat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengumumkan dua program intervensi untuk menahan laju ancaman pemutusan hubungan kerja di sektor manufaktur. Program itu adalah matchmaking (perjodohan bisnis antar pelaku industri) dan substitusi bahan baku impor dengan produk lokal.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Nining Yulistiani, menyampaikan pengumuman tersebut di Bandung. Ia menyebut kondisi industri saat ini berada di titik kritis. Hampir seluruh bahan baku pabrik-pabrik di Jawa Barat masih bergantung pada pasokan luar negeri.
80,8 Persen Impor: Beban Berat Saat Dolar Menguat
“80,8 persen itu posisinya adalah untuk impor bahan baku dan penolong. Terus yang kedua untuk mesin itu sekitar 10 persen. Kemudian untuk konsumsi itu hanya 8 persen. Sebenarnya industri kita hidup sebetulnya, tapi kan dengan harga dolar AS yang menaik, ini kan beban berat bagi mereka untuk produksi,” kata Nining.
Baca Juga:
Angka itu menggambarkan betapa rentannya struktur manufaktur Jawa Barat terhadap gejolak kurs. Ketika dolar AS menguat, ongkos produksi langsung melonjak. Banyak pelaku usaha kini memilih menahan (hold) pembelian bahan baku impor karena harganya terlalu mahal. Pilihan itu, jika berlanjut, akan menekan utilitas produksi dan ujung-ujungnya bisa memicu gelombang PHK.
Tekstil Jadi Prioritas: Kapas Diganti Polyester dan Rayon Lokal
Industri tekstil masuk daftar prioritas substitusi. Selama ini, kapas sebagai bahan baku utama tekstil sepenuhnya diimpor karena Jawa Barat tidak memproduksinya. Nining menyebut ada solusi yang sudah tersedia.
“Kita lakukan substitusi dan matchmaking. Contohnya, industri tekstil yang biasanya perlu kapas dan itu 100 persen merupakan impor. Karena kita enggak produksi kapas, tapi kapas itu kan sudah ada teknologi sintetisnya. Sintetis untuk kapas, polyester dan rayon, dan itu kita produksi di Jawa Barat,” jelasnya.
Selain tekstil, dua komoditas lain juga masuk radar substitusi: zinc sebagai bahan penolong industri, dan gandum yang akan dialihkan ke tepung lokal non-gandum. Proses ini dijalankan bersama asosiasi usaha terkait.
Data SIINas Jadi Mesin Penghubung Industri Hulu dan Hilir
Untuk menjalankan program matchmaking, Disperindag Jabar memanfaatkan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Lewat basis data itu, pabrik penyedia komponen lokal diidentifikasi dan langsung dipertemukan dengan industri hilir yang membutuhkan. Bukan sekadar daftar kontak, melainkan pertemuan konkret hingga tercapai kesepakatan bisnis.
“Sudah kita lakukan matchmaking itu sebenarnya dari tahun kemarin, didorong ke pelaku usaha dan asosiasi. Setelah antar usaha cocok, kita pertemukan mereka. Sehingga deal-nya itu ada,” tutur Nining.
Reskilling Buruh Disiapkan Seiring Efisiensi Korporasi
Pemprov Jabar tidak hanya bermain di sisi produksi. Antisipasi dampak sosial juga disiapkan. Program substitusi dan matchmaking berjalan bersamaan dengan penyelenggaraan bursa kerja proaktif, serta pelatihan reskilling dan upskilling bagi buruh yang berpotensi terdampak efisiensi perusahaan. Program pelatihan ini dijalankan bersama Kementerian Ketenagakerjaan. Sertifikasi vokasi bagi lulusan baru turut disiapkan sebagai bagian dari respons jangka menengah.
Dengan tekanan dolar AS yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, keberhasilan program substitusi dan matchmaking ini akan sangat bergantung pada seberapa cepat pabrik-pabrik lokal mampu memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan industri hilir, serta kesiapan asosiasi usaha mendorong anggotanya beralih dari rantai pasok impor.
Editor: Arif Budiman