Berita

23 Dapur Katering Bercita Rasa Nusantara Siap Layani Jamaah Haji Indonesia di Madinah

9
×

23 Dapur Katering Bercita Rasa Nusantara Siap Layani Jamaah Haji Indonesia di Madinah

Sebarkan artikel ini

Teras News — Sebanyak 23 dapur katering telah disiapkan untuk melayani kebutuhan makan jamaah calon haji Indonesia gelombang pertama selama berada di Madinah, Arab Saudi. Seluruh dapur tersebut telah melewati seleksi ketat dari Kementerian Haji (Kemenhaj) Republik Indonesia dan wajib menyajikan menu bercita rasa Nusantara.

“Seluruhnya sudah diseleksi oleh Kemenhaj Republik Indonesia,” kata Kepala Seksi Konsumsi Daerah Kerja (Daker) Madinah Beny Darmawan dalam keterangannya di Jakarta, Senin (19/5).

27 Kali Makan Selama Sembilan Hari di Madinah

Jamaah Indonesia akan menetap di Madinah sekitar sembilan hari. Dalam rentang itu, mereka mendapat jatah makan 27 kali — tiga kali sehari, pagi, siang, dan menjelang malam — mengikuti kebiasaan makan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Untuk memastikan cita rasa tetap otentik, seluruh bumbu didatangkan langsung dari Indonesia dalam bentuk pasta atau racikan siap pakai. Beny menjelaskan penggunaan bumbu pasta jauh lebih praktis dari sisi distribusi maupun proses produksi dibanding membawa bumbu mentah dalam jumlah besar ke luar negeri.

Setiap Dapur Wajib Punya Koki Indonesia

Tidak cukup soal bumbu. Kemenhaj RI juga mewajibkan setiap dapur mitra memiliki minimal dua koki utama dan empat asisten yang semuanya berasal dari Indonesia.

“Itu menjadi kewajiban dan alhamdulillah mampu dipenuhi oleh seluruh dapur yang sudah diseleksi Kemenhaj,” ujar Beny.

Syarat ini menjadi salah satu kunci agar cita rasa masakan tidak melenceng dari selera jamaah yang mayoritas terbiasa dengan bumbu dan teknik memasak khas daerah masing-masing.

Menu Khusus untuk Jamaah Lansia

Jamaah lanjut usia mendapat perlakuan berbeda soal menu. Beny memastikan jamaah lansia bisa meminta penyesuaian sajian sesuai kondisi fisik mereka.

“Kalau untuk lansia ini sesuai kontrak yang sudah dibuat, jamaah bisa minta menu. Sebenarnya menu sama, tapi biasanya nasi buat bubur atau lebih lunak agar bisa lebih dicerna,” kata dia.

Penyesuaian ini dirancang agar kebutuhan nutrisi jamaah lansia tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kemudahan pencernaan mereka.

Pengecekan Makanan di Tiga Titik Sebelum Disajikan

Pengawasan makanan berjalan di tiga titik berbeda. Sampel dicek di kantor Daker Madinah, di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan di sektor tempat jamaah menginap.

Petugas konsumsi yang ditempatkan langsung di hotel menjadi lapis pengawasan terakhir sebelum makanan sampai ke meja jamaah.

“Pengawasan terakhir nanti ada petugas konsumsi di hotel yang memeriksa makanannya. Pengawasan juga sudah dilakukan di kantor Daker dan KKHI,” kata Beny.

Dilansir dari laporan ANTARA.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Arif Budiman