Berita

Ludruk Surabaya di Ujung Tanduk: Antara Panggung THR yang Redup dan Gempuran Platform Digital

12
×

Ludruk Surabaya di Ujung Tanduk: Antara Panggung THR yang Redup dan Gempuran Platform Digital

Sebarkan artikel ini

Teras News — Di sebuah sudut Kota Surabaya, panggung sederhana masih berdiri. Seorang pelawak melempar parikan — pantun khas Jawa Timur berisi sindiran atau humor — dan tawa penonton langsung pecah. Namun di balik riuh itu, ada kekhawatiran yang diam-diam menggerogoti: berapa lama panggung ini masih bertahan?

Ludruk, seni pertunjukan rakyat khas Jawa Timur, kini berdiri di persimpangan. Bukan soal apakah ia masih hidup — pertunjukan masih berjalan di beberapa titik Surabaya — melainkan soal sejauh mana ia mampu bertahan menghadapi perubahan zaman yang berlari jauh lebih cepat dari langkah para seniman tradisionalnya.

Dari THR ke Layar Ponsel: Kejayaan yang Sudah Berlalu

Pada dekade 1970 hingga 1990-an, ludruk adalah raja hiburan urban Surabaya. Pertunjukan berlangsung hampir setiap malam. Kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) di jantung kota menjadi salah satu pusat panggungnya, dipadati penonton dari berbagai penjuru. Lakon seperti Sarip Tambak Oso — kisah perlawanan rakyat kecil yang dituturkan dalam bahasa lugas dan membumi — menjadi legenda yang dikenal luas.

Kini lanskap itu berubah drastis.

Televisi masuk ruang keluarga. Media sosial mencaplok waktu luang. Platform streaming menyajikan hiburan tanpa batas kapan pun dan di mana pun. Ludruk, dengan durasi pertunjukan yang panjang dan format tradisionalnya yang tidak berubah banyak sejak kelahirannya, perlahan kehilangan panggung reguler. Penonton yang dulu setia kini punya terlalu banyak pilihan lain.

Kritik Sosial yang Terselip di Balik Gelak Tawa

Yang membuat ludruk berbeda dari hiburan lain adalah muatannya. Ia bukan sekadar komedi. Di setiap humor, ada kritik sosial yang tajam — kadang getir, kadang pedas — namun selalu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari penonton.

Format inilah yang dulu menjadikan ludruk lebih dari sekadar tontonan. Ia berfungsi sebagai cermin sosial masyarakat Surabaya, ruang ekspresi bagi rakyat kecil, sekaligus medium komunikasi yang punya daya jangkau luas di eranya.

Pertanyaannya sekarang: apakah fungsi sosial itu masih relevan di era ketika setiap orang bisa menjadi komentator sosial lewat kolom komentar media sosial?

Bertahan atau Bertransformasi

Para pelaku ludruk kini menghadapi dua pilihan yang sama-sama tidak mudah. Bertahan dengan format asli berarti mempertahankan autentisitas, tetapi risikonya adalah penonton yang terus menyusut. Bertransformasi — memasukkan elemen kontemporer, bermain di platform digital, mempersingkat durasi — bisa menjangkau generasi baru, tetapi ada bahaya kehilangan roh yang selama ini membedakan ludruk dari pertunjukan lain.

Ludruk lahir dari rakyat, tumbuh bersama rakyat, dan berbicara untuk rakyat. Identitas itulah yang menjadi taruhannya ketika modernisasi mengetuk pintu panggung.

Apakah warisan budaya Jawa Timur ini akan menemukan cara untuk tetap hidup, atau hanya akan dikenang sebagai romantisme masa lalu — itulah pertanyaan yang kini menjadi beban nyata para seniman ludruk Surabaya.

Dilansir dari laporan Antara.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Surya Dharma