Teras News — Selasa (21/4/2026), Donald Trump melontarkan peringatan paling keras sejak konflik AS-Iran meletus: “banyak bom akan mulai meledak” jika tidak ada kesepakatan damai sebelum tenggat malam hari. Ancaman itu membuat ketegangan antara Washington dan Teheran mencapai titik kritis baru, tepat di saat negosiasi belum menunjukkan hasil konkret.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam percakapan dengan wartawan PBS News. Bukan pertama kalinya ia bicara seperti itu. Sehari sebelumnya, kepada Fox News, Trump menyebut “seluruh negara akan diledakkan” jika Iran menolak menandatangani kesepakatan. Ia bahkan secara spesifik menyebut jembatan dan pembangkit listrik sebagai target serangan.
Di tengah retorika militer itu, Trump tetap mengklaim dirinya terbuka untuk berunding. “Saya tidak akan membiarkan mereka memaksa Amerika Serikat untuk membuat kesepakatan yang tidak sebaik yang seharusnya,” tulisnya di Truth Social, platform media sosial miliknya, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga:
Selat Hormuz Tertutup, Harga Minyak Dunia Bergolak
Perang yang pecah pada 28 Februari lalu membawa konsekuensi besar bagi pasar energi global. Iran menutup de facto Selat Hormuz — jalur laut sempit yang selama ini menjadi rute pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Penutupan itu langsung memicu lonjakan harga minyak di pasar internasional.
AS merespons dengan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Trump mengklaim blokade tersebut “benar-benar menghancurkan Iran” dan menegaskan tidak akan mencabutnya sebelum ada kesepakatan yang ditandatangani. Dua tuntutan utama Washington sudah jelas: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan Selat Hormuz harus kembali dibuka penuh.
Perundingan 21 Jam di Putaran Pertama Berakhir Tanpa Hasil
Putaran pertama perundingan damai berlangsung selama 21 jam — dan gagal menghasilkan apa pun. Kini delegasi AS dikabarkan bersiap terbang ke Islamabad, Pakistan, untuk memulai putaran kedua. Wakil Presiden JD Vance kembali memimpin delegasi, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Masalahnya, Iran belum pasti hadir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan belum ada rencana menghadiri negosiasi. Namun laporan lain menyebut delegasi Teheran kemungkinan tetap berangkat. Ketidakjelasan ini menambah ketidakpastian di saat tenggat waktu tinggal hitungan jam.
Dilansir dari laporan CNBC Indonesia.
Berita Terkait
Editor: Ratna Dewi