Berita

Musim Kemarau 2026 di Ponorogo Diprediksi Lebih Kering, BPBD Minta Warga Siaga Sejak April

6
×

Musim Kemarau 2026 di Ponorogo Diprediksi Lebih Kering, BPBD Minta Warga Siaga Sejak April

Sebarkan artikel ini

Teras News — Warga Ponorogo berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering tahun ini dibanding 2025. Curah hujan selama kemarau 2026 diperkirakan hanya berkisar 201 hingga 500 milimeter — lebih rendah dari kemarau 2025 yang masih di angka sekitar 400 milimeter.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Masun, menyampaikan bahwa peralihan musim hujan ke musim kemarau di wilayah tersebut diprediksi mulai terjadi pada Dasarian III April 2026 — atau sekitar akhir April. Prediksi itu mengacu pada Buletin BMKG Jawa Timur Nomor 326 Tahun 2026 tentang prediksi musim kemarau di wilayah Jawa Timur, yang disampaikan Masun dalam keterangannya, Kamis (9/4).

Kemarau Bisa Berlangsung hingga September atau Oktober

Durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan cukup panjang. Masun menyebut kemarau berpotensi berlangsung selama 16 hingga 19 dasarian — setara lima sampai enam bulan, mulai Mei hingga September atau Oktober 2026.

“Panjang musim kemarau di Ponorogo diperkirakan berlangsung selama 16 hingga 19 Dasarian atau setara sekitar lima sampai enam bulan. Artinya, musim kemarau berpotensi berlangsung mulai Mei hingga sekitar September atau Oktober. Setelah itu memasuki masa pancaroba menuju musim hujan lagi. Jadi memang perlu kesiapsiagaan sejak awal,” kata Masun.

Dasarian adalah pembagian waktu dalam satu bulan menjadi tiga periode, masing-masing sekitar sepuluh hari. Secara klimatologis, suatu wilayah dinyatakan memasuki musim kemarau apabila curah hujan per dasarian maksimal 50 milimeter dan berlangsung selama tiga dasarian berturut-turut.

Curah hujan di Ponorogo diperkirakan mulai turun ke bawah ambang batas itu pada Dasarian III April, lalu berlanjut ke Dasarian I dan II Mei. Hujan ringan dengan intensitas di bawah 50 milimeter per dasarian masih bisa terjadi, namun frekuensinya akan jauh berkurang.

Cuaca Masih Bisa Berubah, Meski Iklim Sudah Prediksi Kemarau

Masun mengingatkan, prediksi kemarau dari BMKG adalah ramalan iklim — bukan ramalan cuaca harian. Dua hal ini berbeda. Iklim mencerminkan pola cuaca jangka panjang, sedangkan cuaca harian bisa berubah sewaktu-waktu akibat anomali atau faktor eksternal.

“Kadang masyarakat bertanya, kenapa sudah masuk kemarau tetapi masih hujan. Itu karena yang diprediksi adalah iklim, sementara cuaca harian bisa berubah sewaktu-waktu, dan secara klimatologis pada musim kemarau memang masih terjadi hujan tetapi dengan curah hujan ringan maksimal 50 mm per dasarian,” jelasnya.

Faktor yang memengaruhi perubahan cuaca antara lain suhu permukaan laut, pemanasan global, emisi karbon, perubahan tata guna lahan, serta berbagai aktivitas manusia yang berdampak pada kondisi atmosfer.

Pengalaman 2025 Jadi Acuan Kesiapsiagaan

BPBD Ponorogo menilai rekam jejak curah hujan dan dampaknya dalam beberapa tahun terakhir cukup relevan sebagai acuan. Pada 2025, ketika curah hujan selama kemarau masih relatif tinggi, dampak kekeringan yang dirasakan warga juga jauh lebih ringan. Kemarau 2026 dengan curah hujan yang diprediksi lebih rendah berpotensi membawa dampak lebih berat, mendekati pola kemarau 2024.

Kondisi ini mendorong BPBD untuk mendorong kesiapsiagaan sejak jauh hari, sebelum kemarau benar-benar puncak.

Dilansir dari laporan Ponorogo.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Arif Budiman