Teknologi

Azis Subekti: Indonesia Harus Bangun Kedaulatan Digital di 3 Fondasi, Bukan Sekadar Perluas Akses Internet

15
×

Azis Subekti: Indonesia Harus Bangun Kedaulatan Digital di 3 Fondasi, Bukan Sekadar Perluas Akses Internet

Sebarkan artikel ini

Teras News — Jakarta, 29 Mei 2026 — Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti mendorong Indonesia membangun kedaulatan digital sebagai arsitektur nasional yang melibatkan negara, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas teknologi, media, dan masyarakat sipil. Pernyataan itu ia sampaikan di Jakarta pada 29 Mei 2026.

Azis menegaskan, transformasi digital nasional tidak boleh berhenti pada perluasan akses internet atau penggunaan aplikasi. Menurutnya, ini soal yang jauh lebih mendasar.

“Persoalan digital Indonesia bukan hanya persoalan teknologi. Persoalan ini menyentuh esensi kemerdekaan, yakni kemampuan bangsa menentukan nasib sendiri di tengah perubahan global,” kata Azis.

Ia menggambarkan pergeseran kekuatan dunia: jika era agraris bertumpu pada penguasaan lahan dan era industri pada pabrik, maka kini pusat kekuasaan global bergerak ke data, algoritma, pusat komputasi, kabel bawah laut, jaringan digital, dan kecerdasan buatan. Indonesia, kata Azis, belum sepenuhnya berdiri sebagai pemain aktif di medan baru itu.

Pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia ini menyebut tiga fondasi yang harus dibangun secara terpadu. Fondasi pertama menyangkut infrastruktur fisik: kabel bawah laut, serat optik, satelit, pusat data, internet exchange, keamanan jaringan, dan diversifikasi jalur internasional. Fondasi kedua mencakup dimensi ekonomi dan teknologi, mulai dari komputasi awan, kecerdasan buatan, keamanan siber, riset, industri perangkat lunak, hingga pengembangan talenta digital. Fondasi ketiga menyentuh lapisan sosial, yakni literasi digital, etika algoritma, perlindungan ruang publik, pendidikan kritis, penguatan media, dan ketahanan masyarakat terhadap manipulasi informasi.

Ketiga fondasi itu, menurut Azis, harus berjalan bersamaan. Program digital nasional yang berjalan sendiri-sendiri, tanpa keterpaduan, tidak akan menghasilkan kemandirian yang sesungguhnya.

Azis juga menyoroti posisi Indonesia yang dinilainya punya modal besar: populasi yang besar, pasar digital yang kuat, wilayah luas, dan letak geografis yang strategis. Namun modal itu belum cukup jika Indonesia hanya berperan sebagai konsumen.

“Indonesia menghasilkan data dalam jumlah besar. Nilai tertinggi dari data itu harus diupayakan kembali kepada Indonesia,” ujarnya.

Ia menutup pernyataannya dengan penegasan yang menggambarkan posisi yang ia inginkan bagi Indonesia di panggung digital global: “Indonesia tidak boleh anti dunia, tetapi juga tidak boleh lugu di hadapan dunia. Keterbukaan harus disertai kemampuan mengatur diri.”

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Surya Dharma