Berita

Rupiah Ditutup Rp17.794 per Dolar AS, Ketidakpastian Global Tekan Nilai Tukar

12
×

Rupiah Ditutup Rp17.794 per Dolar AS, Ketidakpastian Global Tekan Nilai Tukar

Sebarkan artikel ini

Teras News — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada penutupan perdagangan Kamis (26/6), tergerus 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.794 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.762. Tekanan datang dari dua arah sekaligus: ketidakpastian ekonomi global dan sikap bank sentral Amerika Serikat yang masih enggan menurunkan suku bunga.

“Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global mendorong permintaan terhadap aset safe haven, sehingga membatasi potensi penguatan rupiah,” kata Muhammad Amru Syifa, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), kepada Antara di Jakarta, Kamis.

Federal Reserve Tahan Suku Bunga, Dolar Tetap Perkasa

Federal Reserve, bank sentral AS, belum memberikan sinyal penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS ini membuat para investor memilih menaruh dana di aset berbasis dolar, yang pada gilirannya memperkuat greenback dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Aset safe haven adalah instrumen investasi yang cenderung mempertahankan atau meningkatkan nilainya saat kondisi ekonomi dan pasar bergejolak, seperti dolar AS, yen Jepang, atau emas. Ketika ketidakpastian meningkat, permintaan terhadap aset-aset ini melonjak, sehingga mata uang negara berkembang ikut tertekan.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut melemah ke Rp17.826 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.753 per dolar AS.

BI Naikkan BI-Rate Jadi 5,75 Persen sebagai Langkah Pencegahan

Di tingkat domestik, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Juni 2026. Suku bunga deposit facility ikut naik 25 basis poin menjadi 4,75 persen, dan suku bunga lending facility menjadi 6,50 persen.

Keputusan BI ini terbilang agresif di tengah inflasi tahunan yang masih terkendali di angka 3,08 persen pada Mei 2026. Amru Syifa menilai bank sentral sebenarnya punya ruang untuk mempertahankan kebijakan sambil menunggu efektivitas langkah sebelumnya terhadap stabilitas nilai tukar dan aktivitas ekonomi.

Namun BI memilih untuk bergerak lebih awal. Kenaikan suku bunga ini bersifat pre-emptive, yakni langkah pencegahan untuk memastikan inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran pemerintah di level 2,5 persen plus minus 1 persen.

Dengan inflasi yang masih di bawah tekanan dan ketidakpastian global yang belum mereda, pergerakan rupiah dalam jangka pendek sangat bergantung pada sinyal lanjutan dari Federal Reserve dan perkembangan situasi geopolitik dunia.

Penulis: Siti Rahma
Editor: Arif Budiman