Teras News — 32 kontingen dari seluruh penjuru Indonesia bertemu di Alun-Alun Ponorogo pada 11–14 Juni 2026. Mereka datang bukan sekadar memperebutkan Piala Presiden dalam Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI, tetapi memikul sesuatu yang jauh lebih berat: membuktikan bahwa sebuah warisan budaya bisa tetap bernafas di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat.
Festival yang telah memasuki penyelenggaraan ke-31 ini berlangsung selama empat hari. Peserta datang dari kota-kota yang tidak semuanya bertetangga dengan Ponorogo. Surabaya, Nganjuk, Wonogiri, Surakarta, hingga Palembang mengirimkan kontingen mereka, menandakan bahwa Reog Ponorogo sudah lama keluar dari batas geografis asalnya.
Reog Ponorogo Raih Status Warisan Budaya Takbenda UNESCO
Penyelenggaraan FNRP tahun ini punya bobot yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Reog Ponorogo kini telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, pengakuan internasional yang membawa kebanggaan sekaligus beban tanggung jawab. Pengakuan dari lembaga kebudayaan dunia itu bukan titik akhir perjuangan, melainkan awal dari pekerjaan panjang menjaga tradisi agar tidak hanya hidup di atas kertas pengakuan.
Baca Juga:
Dadak merak, mahkota raksasa berbentuk kepala merak yang diangkat oleh penari Reog menggunakan kekuatan gigitan, bisa menjulang setinggi dua meter. Ia adalah simbol paling ikonik dari kesenian ini, sekaligus ujian fisik dan spiritual bagi para penampilnya. Di FNRP XXXI, simbol itu kembali menguasai panggung, dilihat oleh ribuan pasang mata yang hadir di alun-alun.
Kampus dan Sekolah Kuasai Daftar Kontingen Terkuat
Peta kekuatan peserta di FNRP beberapa tahun terakhir memperlihatkan pergeseran yang menarik. Banyak kontingen terbaik justru lahir dari lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Nama-nama seperti SMA Muhammadiyah Ponorogo, SMAN 1 Ponorogo, Universitas Brawijaya, dan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari masuk dalam daftar peserta, menunjukkan bahwa generasi muda aktif mengambil peran dalam pelestarian tradisi ini.
Ini bukan hal kecil. Banyak warisan budaya di berbagai negara justru menghadapi masalah serius karena pelakunya semakin tua dan tidak tergantikan. Tradisi terancam mati bukan karena dilupakan, tetapi karena tidak ada yang mau mewarisinya. Yang terjadi pada Reog memperlihatkan arah yang berbeda.
FNRP sendiri dirancang bukan hanya sebagai ajang kompetisi tahunan. Festival ini berfungsi sebagai ruang pertemuan para pelaku budaya, membuka jalur regenerasi, dan memperkuat ekosistem seni yang menopang kelangsungan Reog dari generasi ke generasi. Tanpa festival seperti ini, banyak kelompok Reog di daerah bisa kehilangan panggung dan semangat untuk terus berlatih.
Dengan 32 kontingen yang tampil sepanjang empat hari di Alun-Alun Ponorogo, FNRP XXXI 2026 menjadi salah satu penyelenggaraan dengan keragaman peserta paling luas. Publik kini menunggu siapa yang akan membawa pulang Piala Presiden dan predikat penyaji terbaik tahun ini.
Editor: Ratna Dewi