Kesehatan

Hipertensi dan Obesitas Kian Mengancam Warga Jateng, Dinkes: Jalan Kaki Pun Sudah Cukup

10
×

Hipertensi dan Obesitas Kian Mengancam Warga Jateng, Dinkes: Jalan Kaki Pun Sudah Cukup

Sebarkan artikel ini

Teras News — Jutaan warga Jawa Tengah kini menghadapi ancaman ganda: hipertensi dan obesitas yang terus meningkat seiring perubahan gaya hidup yang makin minim gerak. Dua kondisi ini bukan hanya soal kesehatan pribadi, melainkan berdampak langsung pada produktivitas kerja dan beban ekonomi keluarga.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah menggelar Sosialisasi Hipertensi dan Obesitas untuk Masyarakat secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (11/6/2026). Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Jateng, Heri Purnomo, memimpin sesi tersebut dan menegaskan bahwa pola penyakit di masyarakat kini bergeser drastis.

“Obesitas dan hipertensi itu saat ini banyak terjadi di masyarakat kita. Dan ini menunjukkan sekarang ada pergeseran pola penyakit. Dari pola penyakit yang menular bergeser ke penyakit tidak menular,” kata Heri.

Pergeseran itu, menurut Heri, bukan terjadi tiba-tiba. Kebiasaan hidup yang kurang sehat menjadi akar masalahnya: merokok, kurang bergerak, rendah konsumsi buah dan sayur, konsumsi alkohol, hingga stres yang tidak dikelola dengan baik. Semua faktor itu perlahan menggerogoti kesehatan tanpa disadari.

Tekanan Darah 140 mmHg ke Atas, Separuh Penderita Tidak Sadar

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUP Dr Kariadi Semarang, Andreas Arie Setiawan, yang turut hadir dalam sosialisasi itu, mengungkapkan fakta yang perlu diwaspadai. Seseorang dikategorikan mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya mencapai 140 mmHg atau lebih. Masalahnya, sebagian besar penderita tidak merasakan gejala apa pun, sehingga kondisinya sering kali terlambat terdeteksi.

Hipertensi sendiri merupakan penyakit paling sering ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan primer, sekaligus menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah. Andreas menyebut bahwa sebagian besar faktor risikonya sebenarnya bisa dikendalikan, mulai dari menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi garam, berhenti merokok, membatasi alkohol, mengelola stres, hingga mencukupi waktu istirahat.

Solusinya Sederhana: Gerak, Apa Pun Bentuknya

Heri menjelaskan bahwa kunci mencegah obesitas sebenarnya bukan soal diet ketat. Yang penting adalah keseimbangan antara asupan makanan dan energi yang dikeluarkan tubuh.

“Makan boleh banyak, tetapi diimbangi dengan gerakan. Artinya olahraga. Bisa jalan kaki, bisa lari, bisa senam, bisa apa saja. Yang penting ada gerak, sehingga antara asupan yang masuk ke dalam tubuh, seimbang dengan energi yang kita keluarkan, sehingga tidak terjadi obesitas,” jelas Heri.

Pesan itu terdengar sederhana. Tapi justru di sanalah tantangannya, karena gaya hidup modern mendorong banyak orang untuk duduk berjam-jam, baik di kantor maupun di rumah.

Dinkes Jateng berharap sosialisasi semacam ini bisa mendorong perubahan nyata di tingkat rumah tangga. Hipertensi dan obesitas yang tidak dikendalikan sejak dini berisiko memicu penyakit kronis lain yang jauh lebih berat dan mahal untuk ditangani.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Arif Budiman