Teras News — Perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat kian menemui jalan buntu setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengeluarkan perintah tegas yang menutup salah satu opsi paling krusial di meja negosiasi. Khamenei memerintahkan agar persediaan uranium Iran yang telah diperkaya mendekati tingkat senjata nuklir tidak boleh dikirim ke luar negeri dalam kondisi apapun.
Seorang sumber senior Iran yang meminta identitasnya dirahasiakan karena sensitivitas isu ini membenarkan keputusan tersebut pada Kamis (21/5/2026). Menurut sumber itu, pihak internal Teheran sudah bulat soal masalah ini.
“Arahan Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam lembaga, adalah bahwa persediaan uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan negara ini,” kata sumber tersebut, dikutip Reuters.
Baca Juga:
Perintah ini langsung membentur tuntutan utama Washington dalam perundingan. AS selama ini menginginkan Iran menyerahkan atau memindahkan stok uranium diperkayanya ke luar wilayah Iran sebagai syarat kesepakatan damai.
Teheran Curiga Gencatan Senjata Hanya Jebakan Taktis AS
Para pejabat tinggi Iran meyakini pengiriman material nuklir ke luar negeri justru akan membuat negara mereka jauh lebih rentan terhadap serangan AS dan Israel di masa depan. Kecurigaan itu bukan tanpa dasar. Dua sumber senior Iran menyebutkan adanya keyakinan kuat di internal Teheran bahwa jeda pertempuran yang sedang berlangsung hanyalah tipu muslihat taktis Washington sebelum serangan udara baru diluncurkan.
Gencatan senjata yang kini berlaku merupakan buah dari perang yang pecah sejak serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Iran membalas serangan itu dengan menembaki negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS, sekaligus memicu pertempuran sengit antara Israel dan Hizbullah, kelompok bersenjata yang didukung Teheran, di Lebanon.
Negosiator perdamaian utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, pada Rabu kemarin juga mencatat adanya pergerakan mencurigakan dari pihak lawan.
“Langkah nyata dan tersembunyi oleh musuh menunjukkan bahwa orang-orang Amerika sedang mempersiapkan serangan baru,” kata Qalibaf.
Trump Ancam Lanjutkan Serangan jika Iran Tolak Kesepakatan
Presiden AS Donald Trump, pada hari yang sama dengan pernyataan Qalibaf, mempertegas bahwa Washington siap melanjutkan serangan ke Teheran apabila Iran menolak kesepakatan damai. Trump menyebut AS masih bisa menunggu beberapa hari untuk mendapat jawaban dari pihak Iran.
Posisi Iran saat ini jauh berbeda dari sebelum perang meletus. Kala itu, Teheran sempat mengisyaratkan kesediaan untuk mengirimkan setengah dari stok uranium yang telah diperkaya hingga 60%. Namun menurut sejumlah sumber, posisi itu berubah drastis setelah Trump berulang kali melontarkan ancaman serangan.
Kebuntuan negosiasi semakin pelik karena blokade AS di pelabuhan-pelabuhan Iran dan kendali Teheran atas Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global, terus mempersulit mediasi yang dilakukan Pakistan. Sampai kini belum ada terobosan berarti dari proses perundingan tersebut.
Dalam sistem pemerintahan Iran, Khamenei memegang wewenang keputusan terakhir atas semua urusan negara yang paling mendasar, termasuk soal program nuklir. Perintahnya soal uranium ini praktis menutup ruang manuver para negosiator Iran untuk menawarkan konsesi yang selama ini diminta AS.
Editor: Arif Budiman