Teras News — Kebutuhan energi global untuk mendukung komputasi AI terus melonjak, dan Huawei kini menjawabnya dengan strategi khusus yang menghubungkan pusat data AI langsung ke jaringan listrik. Di hadapan hampir 1.000 pemimpin industri, perusahaan teknologi asal Tiongkok itu memperkenalkan arsitektur baru yang mereka sebut “Grid-Interactive AIDC” dalam acara Global AIDC Industry Summit 2026.
Huawei menggelar acara bertajuk “Global AIDC Industry Summit 2026 & Huawei AIDC Strategy and Product Launch” di Dongguan, Tiongkok, pada 15 Mei 2026. Tema yang diusung adalah Power the AI Era Forward. Peserta yang hadir berasal dari sektor energi, komputasi cerdas, dan telekomunikasi, mewakili ekosistem industri global yang terus bergantung pada infrastruktur AI.
Listrik Jadi Fondasi Utama Pengembangan AI Jangka Panjang
Hou Jinlong, Director of the Board sekaligus President Huawei Digital Power, tampil menyampaikan presentasi utama. Ia menyebut pertumbuhan pesat penggunaan model bahasa besar (large language models) dan agen AI telah memicu lonjakan kebutuhan energi secara global, yang pada gilirannya mendorong kapasitas pusat data AI (AIDC) dunia untuk terus berkembang.
Baca Juga:
“Listrik menjadi fondasi utama di balik pengembangan AI dalam jangka panjang,” kata Hou. Menurutnya, komputasi dan energi akan semakin terintegrasi sehingga terbentuk sistem terpadu yang mencakup infrastruktur AI dan sistem kelistrikan baru.
Hou juga menekankan bahwa pasokan listrik yang andal merupakan faktor krusial bagi pengembangan AIDC yang berkelanjutan. Kompatibilitas dengan jaringan listrik (grid friendliness) dinilai tak kalah penting demi menjaga stabilitas operasional jangka panjang. Arsitektur tegangan tinggi, arus searah (DC), dan elektronik daya disebut berperan besar dalam mendukung kebutuhan komputasi berdensitas sangat tinggi.
Teknologi Pendingin Cair dan Sistem O&M Cerdas Jadi Kebutuhan Wajib
Dalam presentasinya, Hou menyebutkan bahwa teknologi pendingin cair (liquid cooling) kini telah menjadi kebutuhan utama sistem komputasi generasi baru. Pengelolaan termal yang andal, ditambah sistem operasi dan pemeliharaan (O&M) cerdas sepanjang siklus penggunaan, menjadi kunci dalam menjalankan AIDC secara efisien.
Kecepatan komputasi, kata Hou, berkaitan langsung dengan kinerja bisnis dan imbal hasil investasi, mengingat AIDC pada dasarnya adalah sistem yang memproduksi daya komputasi.
Bob He, Vice President Huawei Digital Power, melengkapi dengan presentasi bertajuk “Building Grid-Interactive AIDC, Maximizing Tokens Per Watt.” Ia menyoroti lonjakan kebutuhan token seiring pertumbuhan industri AI global, yang menurutnya kini mendorong AIDC memasuki era baru efisiensi energi.
Huawei Digital Power Integrasikan Empat Teknologi Sekaligus
Huawei Digital Power membangun pendekatannya di atas integrasi empat teknologi, yang mereka sebut 4T: bit (komputasi), watt (energi), panas (termal), dan baterai. Dari fondasi ini, perusahaan mengembangkan kapabilitas di bidang pembangkit energi terbarukan, grid forming, pasokan daya komputasi berdensitas tinggi, pendingin cair, serta sinergi antara komputasi dan listrik.
Target yang dicanangkan jelas. Huawei Digital Power ingin memimpin inovasi AIDC dan menjadi mitra strategis jangka panjang bagi industri global, sekaligus mendorong pengembangan AIDC yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan melalui kerja sama dengan pelanggan dan mitra di seluruh dunia.
Peluncuran strategi Grid-Interactive AIDC ini berlangsung di tengah persaingan ketat antar raksasa teknologi global dalam memperebutkan posisi sebagai penyedia infrastruktur AI terdepan, sebuah pasar yang nilai investasinya terus meningkat seiring adopsi AI di berbagai sektor industri.
Editor: Surya Dharma