Berita

Filosofi Tempe Jawa: Makna ‘Yen Atine Resik, Tempene Apik’ dan Peran Pembuat di Balik Kualitasnya

14
×

Filosofi Tempe Jawa: Makna ‘Yen Atine Resik, Tempene Apik’ dan Peran Pembuat di Balik Kualitasnya

Sebarkan artikel ini

Teras NewsTempe bukan sekadar makanan. Di kalangan masyarakat Jawa, makanan berbahan dasar kedelai yang difermentasi ini menyimpan nilai filosofis yang mengakar kuat, tergambar dalam pepatah lama: “yen atine resik, tempene apik”.

Pepatah berbahasa Jawa itu secara harfiah berarti “kalau hatinya bersih, tempenya bagus”. Ungkapan ini menghubungkan kondisi batin si pembuat tempe dengan kualitas produk yang dihasilkan, sebuah pandangan yang menempatkan kejujuran dan ketulusan sebagai bagian dari proses produksi itu sendiri.

Tempe dan Keterikatan Budaya Masyarakat Jawa

Tempe telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Bukan hanya sebagai lauk murah meriah, melainkan sebagai cermin nilai-nilai lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Pepatah “yen atine resik, tempene apik” adalah salah satu bentuk pelestarian nilai itu dalam ekspresi kuliner.

Secara praktis, proses pembuatan tempe memang sangat bergantung pada kecermatan dan kedisiplinan pembuatnya. Fermentasi kedelai oleh jamur Rhizopus membutuhkan kondisi yang tepat: suhu, kelembapan, kebersihan bahan, hingga waktu fermentasi. Satu langkah yang lalai bisa merusak seluruh proses. Dalam konteks itulah filosofi “hati yang bersih” menemukan makna konkretnya.

Peran Pembuat Tempe dalam Menentukan Kualitas

Para perajin tempe tradisional umumnya memulai pekerjaan dini hari. Proses panjang mulai dari merendam kedelai, merebus, mengupas kulit, mengeringkan, menaburkan ragi, hingga membungkus dan memfermentasi memerlukan perhatian penuh. Tidak ada ruang untuk sembrono.

Di sinilah pepatah Jawa itu bekerja bukan sebagai mitos, melainkan sebagai panduan moral. Pembuat tempe yang “bersih hatinya” dipercaya tidak akan memotong jalan pintas, tidak akan menggunakan bahan bermasalah, dan tidak akan mengabaikan satu pun tahapan penting. Hasilnya: tempe yang padat, beraroma khas, dan berkualitas tinggi.

Tradisi ini juga mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa secara historis memasukkan etos kerja dan spiritualitas ke dalam aktivitas sehari-hari, termasuk dalam kegiatan produksi pangan sederhana sekalipun.

Tempe di Tengah Pengakuan Dunia

Tempe kini bukan lagi konsumsi lokal semata. Makanan fermentasi ini sudah dikenal di berbagai negara sebagai sumber protein nabati yang bergizi, bahkan menjadi bagian dari pola makan vegetarian dan vegan global. Indonesia tengah mendorong tempe untuk mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, sebuah proses yang menempatkan nilai-nilai di balik produksi tempe, termasuk filosofi seperti pepatah tadi, sebagai kekayaan yang perlu dijaga.

Laporan mendalam soal filosofi dan peran pembuat tempe ini dipublikasikan Antara, mengangkat makna “yen atine resik, tempene apik” sebagai bagian dari kekayaan budaya kuliner Indonesia yang layak diketahui lebih luas.

Di tengah industrialisasi pangan yang terus berkembang, pertanyaan tentang apakah nilai-nilai seperti ini masih hidup di dapur para perajin tempe modern menjadi relevan. Jawaban mungkin ada pada sepotong tempe yang tersaji di meja makan setiap pagi.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Ratna Dewi