Teras News — Blokir internet berkepanjangan di Iran kini merambah dampaknya ke sektor ekonomi, memunculkan ancaman nyata berupa PHK massal dan tutupnya ribuan usaha di seluruh negeri. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan perang dan krisis ekonomi yang terus memburuk, membuat nasib warga Iran semakin terjepit.
Gangguan akses internet yang berlangsung dalam waktu panjang bukan hanya memutus komunikasi warga. Roda perekonomian ikut terganggu. Pelaku usaha kesulitan menjalankan transaksi, distribusi barang terhambat, dan aktivitas bisnis digital praktis lumpuh.
Ekonomi Tergerus, Usaha Kecil Paling Terpukul
Kekhawatiran akan gelombang PHK massal mulai mengemuka seiring laporan penutupan usaha yang terus bertambah. Sektor yang bergantung pada konektivitas internet menjadi yang paling rentan. UMKM dan bisnis rintisan berbasis digital menghadapi ancaman paling berat, karena tidak punya cadangan operasional untuk bertahan tanpa akses jaringan.
Baca Juga:
Situasi ini diperburuk oleh kondisi perang yang masih berlangsung dan tekanan sanksi ekonomi internasional terhadap Iran. Kombinasi tiga faktor sekaligus — blokir internet, konflik bersenjata, dan isolasi ekonomi — mempersempit ruang gerak warga dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Warga di Tengah Kepungan Krisis Berlapis
Nasib warga Iran yang semakin memprihatinkan menjadi sorotan dalam laporan yang ditayangkan CNBC Indonesia pada Selasa (12/5/2026). Blokir internet, yang seharusnya menjadi kebijakan sementara, kini berdampak seperti kebijakan permanen dengan konsekuensi ekonomi yang terus melebar.
Pemutusan akses internet secara massal oleh pemerintah bukan pertama kali terjadi di Iran. Negara ini tercatat beberapa kali memblokir internet di tengah gejolak politik dan sosial. Namun kali ini, durasi dan konteks krisisnya jauh lebih berat dibanding episode sebelumnya.
Kondisi terkini menempatkan Iran dalam tekanan yang sulit mereda dalam waktu dekat. Tanpa pemulihan akses internet dan stabilisasi ekonomi, ancaman PHK massal dan kebangkrutan usaha berpotensi terus meluas.
Editor: Surya Dharma