Internasional

Dipukul Mundur dari Kidal, Tentara Bayaran Rusia Korps Afrika Kalah dari Pemberontak Tuareg

11
×

Dipukul Mundur dari Kidal, Tentara Bayaran Rusia Korps Afrika Kalah dari Pemberontak Tuareg

Sebarkan artikel ini

Teras News — Kidal, kota yang pada 2023 menjadi simbol kemenangan Moskow di Afrika, kini justru menjadi tempat penghinaan terbesar bagi Rusia di benua itu. Korps Afrika, pasukan bayaran Rusia yang menggantikan Grup Wagner di bawah Kementerian Pertahanan Kremlin, terpaksa hengkang dari kota strategis di Mali utara tersebut bulan lalu, setelah dikalahkan aliansi pemberontak Tuareg dan militan terkait Al Qaeda.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan konvoi kendaraan Rusia diejek pejuang Tuareg saat keluar dari pangkalan mereka. Bukan evakuasi terhormat, melainkan mundur di bawah cemoohan musuh yang sebelumnya justru ingin mereka hancurkan.

Serangan 25 April Jadi Titik Balik di Mali Utara

Serangan besar dimulai pada 25 April ketika Front Pembebasan Azawad (FLA), kelompok separatis Tuareg, bersatu dengan militan yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Aliansi ini disebut sebagai salah satu serangan paling berani dalam lebih dari satu dekade terakhir di Mali. Mereka berhasil merebut sejumlah pangkalan militer di Mali utara, memaksa Korps Afrika Rusia bernegosiasi hanya untuk mendapat jalur aman keluar dari Kidal.

Kidal sendiri punya nilai simbolis besar. Ketika Mali bersama tentara bayaran Rusia merebutnya pada 2023, kemenangan itu dirayakan Moskow sebagai bukti bahwa Rusia bisa menggantikan Barat sebagai pelindung keamanan di kawasan Sahel. Kawasan Sahel adalah sabuk luas di bawah Gurun Sahara yang mencakup Mali, Burkina Faso, Niger, Chad, hingga Sudan, dan kini dikenal sebagai salah satu pusat terorisme paling mematikan di dunia.

Menteri Pertahanan Mali Tewas dalam Bom Bunuh Diri

Krisis semakin dalam setelah Menteri Pertahanan Mali, Sadio Camara, tewas dalam serangan bom bunuh diri di dekat ibu kota Bamako. Camara dikenal sebagai arsitek kedekatan rezim junta Mali dengan Rusia, sosok yang selama ini menjadi jembatan antara Bamako dan Moskow.

Kelompok Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), yang berafiliasi dengan Al Qaeda, mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Kematian Camara menambah tekanan pada janji Rusia untuk menstabilkan Mali, yang kini semakin sulit dipertanggungjawabkan.

Analis: Strategi Rusia Gagal Atasi Akar Masalah

Héni Nsaibia, analis senior dari Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED), menilai bahwa pendekatan Moskow terlalu dangkal untuk kompleksitas Sahel. “Dukungan militer Rusia memang cepat, tetapi sangat sedikit mengatasi pendorong utama militansi seperti lemahnya tata kelola, korupsi, marginalisasi sosial-ekonomi, ketegangan etnis, dan rendahnya legitimasi negara,” kata Nsaibia.

Rusia membangun pengaruhnya di Afrika lewat model sederhana: keamanan ditukar akses sumber daya alam. Model ini sebelumnya dijalankan Grup Wagner di Libya, Mozambik, dan Republik Afrika Tengah. Namun transisi dari Wagner ke Korps Afrika ternyata tidak berjalan mulus di lapangan.

Kekalahan di Kidal bukan sekadar kerugian taktis. Ini merusak citra Rusia sebagai mitra keamanan andalan yang tengah dibangun Kremlin selama bertahun-tahun, tepat ketika sejumlah negara Sahel sudah mengusir kehadiran militer Barat dan mengandalkan Moskow sebagai penggantinya.

Penulis: Ratna Dewi
Editor: Arif Budiman