Internasional

Setahun Konflik India-Pakistan, Kedua Negara Nuklir Saling Klaim Menang dan Ancam Perang Lebih Besar

1
×

Setahun Konflik India-Pakistan, Kedua Negara Nuklir Saling Klaim Menang dan Ancam Perang Lebih Besar

Sebarkan artikel ini

Teras News — Kamis (7/5/2026), tepat satu tahun setelah pertempuran udara empat hari yang mengguncang Asia Selatan, India dan Pakistan sama-sama menggelar peringatan kemenangan versi masing-masing — sementara ketegangan di antara kedua negara bersenjata nuklir itu justru belum reda.

Di Rawalpindi, Angkatan Udara Pakistan (PAF) mengadakan upacara resmi untuk memperingati keberhasilan mereka menembak jatuh jet tempur India. Pakistan menyebut peringatan itu “Hari Pertempuran Kebenaran”. Poster dan spanduk bertebaran di berbagai penjuru kota, memuji kepemimpinan militer yang dianggap berhasil mempertahankan negara dari serangan musuh yang jauh lebih besar.

Di New Delhi, Perdana Menteri India Narendra Modi memilih cara yang berbeda. Ia mengganti foto profil akun X-nya dengan logo resmi Operation Sindoor, nama operasi militer India yang menyerang wilayah Pakistan pada 7 Mei 2025, dan mengajak seluruh rakyat India melakukan hal yang sama.

“Setahun yang lalu, angkatan bersenjata kita menunjukan keberanian, presisi, dan tekad yang tak tertandingi. Hari ini, kita tetap teguh seperti sebelumnya dalam tekad kita untuk mengalahkan terorisme dan menghancurkan ekosistem pendukungnya,” tulis Modi melalui akun X-nya pada Kamis.

Pemicu: Serangan terhadap Turis di Kashmir, 22 April 2025

Konflik antara dua negara bertetangga ini bermula dari serangan terhadap wisatawan di Kashmir pada 22 April 2025. India menuding Pakistan sebagai pihak yang bertanggung jawab, lalu meluncurkan Operation Sindoor dua pekan kemudian dengan menyerang sejumlah lokasi di dalam wilayah Pakistan. Pakistan membalas melalui operasi yang mereka namai Operation Bunyan al-Marsoos. Pertempuran berlangsung empat hari sebelum gencatan senjata dicapai.

India dan Pakistan sama-sama memiliki senjata nuklir. Keduanya juga telah berkali-kali terlibat perang sejak kemerdekaan masing-masing pada 1947. Konflik Mei 2025 menjadi salah satu konfrontasi militer langsung paling serius dalam beberapa dekade terakhir.

India Klaim Hancurkan 13 Pesawat Pakistan, Akui Kehilangan Rafale

Air Marshal Awadhesh Kumar Bharti dari pihak India menyatakan dalam konferensi pers di New Delhi bahwa pasukan India menghancurkan 13 pesawat Pakistan dan menyerang 11 lapangan udara selama konflik berlangsung. Namun ia juga mengakui kehilangan sejumlah pesawat tempur, termasuk jet Rafale buatan Prancis yang ditembak jatuh oleh jet J-10C buatan China milik Pakistan.

“Kerugian adalah bagian dari pertempuran,” kata Bharti dengan nada datar saat mengakui jatuhnya pesawat India di hari pertama pertempuran.

Pengakuan itu cukup mengejutkan karena Rafale selama ini dianggap sebagai salah satu jet tempur paling canggih di dunia. Fakta bahwa pesawat tersebut berhasil dijatuhkan oleh J-10C memunculkan pertanyaan serius tentang keunggulan teknologi pertahanan India.

Pakistan: Baru Tunjukkan 10 Persen Kekuatan Militer

Dari sisi Pakistan, nada yang keluar justru terdengar lebih menantang. Direktur Jenderal ISPR (Inter-Services Public Relations) Pakistan, Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, menyebut negaranya berhasil mengalahkan musuh yang berukuran lima kali lebih besar.

“Kami telah mengalahkan musuh dan baru menunjukkan 10 persen dari potensi militer kami. Kami siap. Jika ada yang ingin menguji kami, mereka dipersilakan untuk melakukannya,” tegas Chaudhry dalam jumpa pers di Rawalpindi.

Pernyataan itu menandai retorika yang semakin keras dari kedua belah pihak. Para analis yang dikutip Al Jazeera memperingatkan bahwa konflik empat hari tersebut justru mengekspos kerentanan serius di sistem pertahanan kedua negara — bukan menyelesaikan persoalan mendasar di antara mereka.

Pakistan sendiri harus menelan fakta bahwa rudal jarak jauh BrahMos milik India berhasil menembus sistem pertahanan udara mereka, meskipun di saat yang sama mengklaim keunggulan di arena udara. Kedua pihak pulang dengan cerita kemenangan yang berbeda — dan luka yang belum sepenuhnya disembunyikan.

Satu tahun berlalu, tidak ada mekanisme damai formal yang disepakati kedua negara. Ketegangan di perbatasan Kashmir tetap membara, dan pernyataan-pernyataan militer dari Rawalpindi maupun New Delhi pada pekan ini memberi gambaran bahwa risiko eskalasi baru masih jauh dari selesai.

Penulis: Indah Lestari
Editor: Surya Dharma