Internasional

Kotak Hitam Ungkap Sakelar Bahan Bakar Dimatikan Manual Sebelum Boeing 737 China Eastern Jatuh, 132 Tewas

13
×

Kotak Hitam Ungkap Sakelar Bahan Bakar Dimatikan Manual Sebelum Boeing 737 China Eastern Jatuh, 132 Tewas

Sebarkan artikel ini

Teras News — Dua mesin Boeing 737-800 milik China Eastern Airlines mati bukan karena kerusakan, melainkan karena seseorang di dalam kokpit secara fisik memindahkan sakelar bahan bakar ke posisi cutoff. Temuan dari analisis kotak hitam pesawat itu kini mempertebal dugaan bahwa kecelakaan maut pada Maret 2022 yang menewaskan 132 orang bukan terjadi begitu saja.

National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat menganalisis perekam data penerbangan pesawat tersebut di laboratoriumnya di Washington DC. Hasilnya mengungkap bahwa saat pesawat masih melaju di ketinggian sekitar 29.000 kaki, sakelar bahan bakar pada kedua mesin berpindah dari posisi run ke posisi cutoff. Kecepatan mesin langsung merosot setelah perpindahan sakelar itu. Pesawat kemudian menukik dan menghantam kawasan terpencil di Guangxi, China.

Sakelar yang Tidak Bisa Bergerak Sendiri

Desain sakelar bahan bakar pada Boeing 737 membuat pergerakan tanpa sengaja nyaris mustahil terjadi. Analis keselamatan penerbangan CNN, David Soucie, menjelaskan bahwa pilot harus menarik sakelar ke atas lebih dulu sebelum bisa menggesernya ke posisi mati. Itu bukan tuas biasa yang bisa tersenggol secara tidak sengaja.

“Data ini dengan jelas menunjukkan bahwa sakelar bahan bakar ditempatkan secara manual pada posisi mati sesaat sebelum kecelakaan. Tidak ada indikasi bahwa sakelar dikembalikan ke posisi menyala. Itu menunjukkan tidak ada upaya untuk menyalakan kembali mesin. Jika sakelar dimatikan karena kesalahan, pilot pasti akan mencoba menyalakannya kembali,” ujar Soucie, seperti dilaporkan CNN International dan dikutip Minggu (10/5/2026).

Kalimat terakhir Soucie itu menjadi inti dari seluruh pertanyaan: tidak ada tindakan korektif. Mesin mati, dan tidak ada yang menyalakannya kembali.

Rekaman Kokpit Ada, Tapi Tidak Dipegang NTSB

Perekam data penerbangan berhenti bekerja ketika generator kehilangan daya di ketinggian 26.000 kaki. Namun perekam suara kokpit (CVR) terus merekam lewat cadangan baterai. Penyidik AS berhasil memulihkan empat rekaman suara dari perangkat yang rusak itu, lalu menyerahkan semuanya kepada Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC). NTSB sendiri tidak menyimpan salinan file audio tersebut.

Artinya, isi percakapan di dalam kokpit detik-detik sebelum pesawat jatuh kini sepenuhnya berada di tangan otoritas China.

Pakar: Data Belum Buktikan Motif

Tony Stanton, pakar penerbangan dari konsultan Strategic Air Australia, mengingatkan bahwa dokumen NTSB ini belum bisa dibaca sebagai laporan kecelakaan final.

“Materi yang dirilis ini tidak dengan sendirinya membuktikan motif, niat, atau siapa yang memindahkan sakelar tersebut. Namun, rangkaian peristiwa ini sangat sulit disesuaikan dengan kegagalan mekanis mesin ganda konvensional dan jauh lebih konsisten dengan pemutusan bahan bakar atas perintah manusia,” kata Stanton.

Pernyataan Stanton merangkum dilema investigasi ini: data teknis mengarah ke satu kesimpulan, tapi pertanyaan soal siapa dan mengapa masih terbuka.

Spekulasi tentang tindakan disengaja sebenarnya sudah beredar sejak 2022, tak lama setelah pesawat dengan nomor penerbangan MU5735 itu jatuh dalam kondisi menukik hampir vertikal. Kecepatan dan sudut jatuhnya pesawat kala itu dinilai tidak wajar untuk sebuah kegagalan mekanis biasa. Investigasi resmi China hingga kini belum merilis kesimpulan akhir secara publik, sehingga temuan NTSB ini menjadi satu-satunya dokumen teknis yang beredar dan bisa diakses publik luar.

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Surya Dharma