Internasional

10 Hari Gencatan Senjata Lebanon-Israel, Warga Mulai Kembali ke Beirut Selatan di Tengah Laporan Pelanggaran

12
×

10 Hari Gencatan Senjata Lebanon-Israel, Warga Mulai Kembali ke Beirut Selatan di Tengah Laporan Pelanggaran

Sebarkan artikel ini

Warga yang sebelumnya mengungsi akibat konflik bersenjata di Lebanon mulai kembali ke pinggiran selatan Beirut pada Jumat (17/4/2026), meski gencatan senjata antara Lebanon dan Israel baru berjalan 10 hari dan kondisi keamanan di lapangan dilaporkan belum sepenuhnya stabil.

Sejumlah warga terlihat meninjau kondisi rumah mereka di kawasan tersebut, memeriksa apakah bangunan masih berdiri setelah wilayah itu dihantam serangan selama lebih dari enam minggu. Tidak sedikit di antara mereka yang memilih untuk belum menetap kembali dalam waktu dekat, dengan alasan situasi keamanan yang dinilai belum kondusif.

Kawasan pinggiran selatan Beirut yang selama ini dikuasai Hizbullah kini dipenuhi puing-puing beton, sisa kehancuran bangunan akibat serangan intensif Israel. Pemandangan tersebut terekam dalam sejumlah foto yang diterbitkan kantor berita Reuters pada hari yang sama.

Gencatan Senjata Diumumkan Trump

Gencatan senjata antara pemerintah Lebanon dan Israel diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis sebelumnya. Namun dinamika internal Lebanon turut memperumit situasi yang ada.

Pemerintah Lebanon diketahui memiliki perbedaan tajam dengan Hizbullah terkait keterlibatan kelompok tersebut dalam konflik. Dalam setahun terakhir, pemerintah Lebanon juga disebut mendorong upaya pelucutan senjata secara damai terhadap Hizbullah.

Konflik yang berlangsung merupakan bagian dari eskalasi yang lebih luas, yang dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Tentara Lebanon Laporkan Pelanggaran oleh Israel

Di lapangan, situasi dilaporkan masih jauh dari kondusif. Tentara Lebanon melaporkan adanya pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel, termasuk penembakan sporadis ke sejumlah desa di wilayah selatan Lebanon.

Merespons kondisi tersebut, otoritas militer Lebanon mengimbau warga untuk menunda kepulangan ke daerah selatan demi alasan keselamatan.

Lebih dari 2.100 Orang Tewas, 1,2 Juta Mengungsi

Dampak kemanusiaan akibat konflik ini tercatat signifikan. Otoritas Lebanon mencatat lebih dari 2.100 orang tewas sejak konflik berlangsung, sementara sekitar 1,2 juta lainnya terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Mayoritas korban jiwa dan pengungsi berasal dari komunitas Syiah. Komunitas yang sama sebelumnya juga terdampak berat dalam konflik yang terjadi pada tahun 2024.

Kekhawatiran masih membayangi proses pemulihan. Meski sebagian warga mulai memberanikan diri kembali ke kawasan selatan Beirut untuk melihat kondisi rumah mereka, ancaman terhadap keberlangsungan gencatan senjata membuat situasi tetap tidak menentu.

Dilansir dari laporan CNBC Indonesia dan Reuters.