Teras News — Presiden Prabowo Subianto mendesak seluruh negara anggota ASEAN untuk memperkuat persatuan dan menjaga perdamaian kawasan di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global. Seruan itu disampaikan dalam sesi pleno KTT ke-48 ASEAN di Mactan Expo, Cebu, Filipina, pada Jumat (8/5).
Dalam forum yang mempertemukan para pemimpin Asia Tenggara tersebut, Prabowo menegaskan posisi Indonesia: ASEAN harus tetap berdiri sebagai jangkar stabilitas kawasan, bukan terseret dalam persaingan kekuatan besar yang tengah meruncing. “Kita harus,” demikian penggalan pernyataan Prabowo yang dirilis Sekretariat Kabinet RI, menggambarkan urgensi konsolidasi internal ASEAN saat ini.
ASEAN Diuji Dinamika Geopolitik yang Kian Tajam
KTT ke-48 ASEAN digelar di Cebu, kota terbesar kedua Filipina, yang tahun ini menjadi tuan rumah pertemuan puncak organisasi regional beranggotakan 10 negara itu. Forum ini berlangsung di tengah sejumlah ketegangan global, termasuk persaingan dagang antara Amerika Serikat dan China yang turut memengaruhi rantai pasok dan investasi di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga:
Prabowo menekankan bahwa solidaritas dan kerja sama antarnegara anggota menjadi kunci utama. Tanpa kepaduan internal, ASEAN dinilai rentan terhadap tekanan dari luar yang dapat memecah konsensus kawasan.
Indonesia Konsisten Dorong Peran Sentral ASEAN
Posisi Indonesia dalam mendorong sentralitas ASEAN bukan kali pertama ditegaskan di forum internasional. Sebagai negara dengan populasi dan ekonomi terbesar di blok ini, Indonesia kerap mengambil peran pendorong dalam menjaga kohesi organisasi, termasuk saat memegang Kpresidensi ASEAN pada 2023.
Kehadiran Prabowo di Cebu juga menjadi salah satu penampilan multilateral pertamanya dalam format KTT ASEAN sejak resmi menjabat sebagai Presiden RI. Agenda sesi pleno biasanya mencakup pembahasan isu-isu prioritas kawasan, dari ketahanan pangan, transisi energi, hingga stabilitas Laut China Selatan.
Pertemuan di Cebu akan menentukan arah kebijakan kolektif ASEAN untuk periode mendatang, dengan deklarasi bersama para pemimpin sebagai dokumen penutup yang ditunggu.
Editor: Surya Dharma