Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa menyiapkan tim terpadu tanggap darurat untuk menangani dan mendata warga sipil korban penembakan di Kabupaten Puncak. Tim ini dibentuk bersama Pemerintah Kabupaten Puncak dan Puncak Jaya.
“Dalam satu dua hari ini kita bentuk tim terpadu tanggap darurat bersama dari Pemkab Puncak dan Puncak Jaya untuk menangani korban,” ujar Meki saat ditemui di Bandara Nabire, Jumat (18/4), usai mengunjungi para korban penembakan.
Empat Anak Terkena Peluru
Meki menyatakan telah mengunjungi langsung para korban, termasuk empat anak-anak yang terkena peluru. Pemerintah Provinsi Papua Tengah menanggung seluruh biaya pengobatan korban hingga sembuh.
Baca Juga:
“Kami sudah mengunjungi langsung korban, termasuk empat anak-anak yang terkena peluru. Pemprov akan menanggung seluruh biaya pengobatan sampai sembuh, satu anak sudah diterbangkan ke Jayapura untuk mendapat pengobatan,” katanya.
Pendataan korban dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Palang Merah Indonesia (PMI), guna memastikan seluruh korban mendapat penanganan.
Dukungan Logistik dan Pendidikan
Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga menyiapkan dukungan logistik bagi masyarakat terdampak, termasuk penambahan tenda darurat bagi pengungsi yang masih terbatas.
Selain penanganan medis, Pemprov Papua Tengah berkomitmen menjamin pendidikan anak-anak korban konflik, termasuk mereka yang kehilangan orang tua.
Saling Klaim antara TNI dan OPM
Konflik bersenjata antara aparat keamanan dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah perbatasan Kabupaten Puncak dan Puncak Jaya menjadi latar belakang insiden ini.
Pihak TNI menyebut tiga warga sipil — terdiri atas satu perempuan dan dua anak-anak — mengalami luka akibat penembakan yang diduga dilakukan OPM di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, pada Rabu (15/4). Para korban dievakuasi dengan bantuan aparat TNI, tenaga kesehatan, dan warga setempat.
Kepala Penerangan Komando Operasi TNI Habema Letkol Inf. Wirya Arthadiguna menyatakan fokus utama aparat saat ini adalah keselamatan korban serta pendalaman informasi terkait pelaku penembakan.
Di sisi lain, kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) OPM melalui pernyataan resminya mengklaim aparat militer Indonesia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas korban sipil. Klaim ini masih bersifat saling bantah antara kedua pihak.
Gubernur Kecam Korban Sipil, Dorong Dialog
Meki meminta agar konflik bersenjata antara TNI-Polri dan OPM tidak mengorbankan masyarakat sipil, khususnya perempuan dan anak-anak.
“Kami mengutuk tindakan yang tidak presisi, di mana anak-anak dan perempuan menjadi korban,” tegasnya.
Dalam upaya jangka panjang, Pemprov Papua Tengah mendorong pendekatan dialog dan komunikasi sebagai solusi penyelesaian konflik bersenjata.
“Kita harus mengedepankan komunikasi dan pendekatan humanis agar pelan-pelan dapat menciptakan kedamaian,” ujar Meki.
Dilansir dari laporan Antara.

