Kesehatan

Smart Febrile Patch, Sensor Keringat yang Bisa Deteksi Jenis Demam Lebih Akurat

16
×

Smart Febrile Patch, Sensor Keringat yang Bisa Deteksi Jenis Demam Lebih Akurat

Sebarkan artikel ini

Teras News — Jutaan orang Indonesia menghadapi demam setiap hari tanpa tahu persis seberapa serius kondisi mereka. Keputusan untuk beristirahat di rumah atau segera ke dokter kerap bergantung pada perasaan semata, bukan data. Inovasi bernama Smart Febrile Patch hadir untuk mengisi celah itu.

Gagasan perangkat ini lahir dari kegelisahan panjang seorang peneliti yang mengamati tingginya proporsi kasus penyakit infeksi berstatus suspek di Kabupaten Tangerang. Banyak kondisi tidak terdeteksi secara dini, penanganan terlambat, dan dalam sejumlah kasus, keterlambatan itu berujung komplikasi serius bahkan mengancam nyawa.

Tiga Indikator Kunci dari Keringat Tubuh

Smart Febrile Patch dirancang sebagai sensor wearable non-invasif, artinya tidak menembus kulit dan dapat dipakai dalam aktivitas sehari-hari. Cara kerjanya memanfaatkan sinyal biologis yang sudah diproduksi tubuh secara alami: keringat.

Patch ini mengukur tiga parameter sekaligus. Pertama, suhu tubuh sebagai indikator paling umum dari respons infeksi. Kedua, pH keringat yang memberikan gambaran keseimbangan fisiologis tubuh. Ketiga, kadar laktat dalam keringat yang berkaitan dengan kondisi metabolisme dan bisa menjadi tanda awal gangguan sistemik.

Ketiga indikator itu dipilih bukan tanpa alasan. Suhu saja tidak cukup membedakan apakah seseorang mengalami demam biasa, infeksi bakteri, atau kondisi yang lebih kritis. Kombinasi pH dan laktat memberikan lapisan informasi tambahan yang selama ini hanya bisa diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium.

Menjembatani Masyarakat dan Tenaga Medis

Peneliti yang mengembangkan konsep ini menegaskan bahwa Smart Febrile Patch tidak dirancang untuk menggantikan dokter. Fungsinya sebagai panduan awal yang lebih objektif sebelum seseorang memutuskan langkah selanjutnya.

Masalah utama yang coba diatasi adalah ketiadaan parameter yang bisa dibaca orang awam. Selama ini, ketika seseorang demam, mereka mengandalkan ingatan pengalaman lalu atau bertanya kepada orang terdekat. Tanpa data yang terukur, penilaian kondisi tubuh menjadi sangat subjektif.

Pola itu berulang terus dan risikonya nyata. Seseorang yang mengira demamnya ringan bisa sudah memasuki fase infeksi serius tanpa menyadarinya.

Berangkat dari Data Kasus di Kabupaten Tangerang

Angka kasus suspek penyakit infeksi di Kabupaten Tangerang menjadi titik berangkat penelitian ini. Data tersebut menunjukkan banyak kasus yang semestinya bisa dideteksi lebih awal justru baru tertangani ketika kondisi sudah memburuk.

Kondisi itu mencerminkan masalah yang lebih luas di layanan kesehatan primer: masyarakat tidak punya alat bantu yang praktis untuk membaca kondisi tubuh mereka sendiri. Sensor berbasis keringat menawarkan pendekatan yang relatif sederhana secara penggunaan, meski kompleks secara teknologi di baliknya.

Pengembangan Smart Febrile Patch masih dalam tahap konsep dan penelitian, sebagaimana dilaporkan Antara. Perjalanan dari prototipe menuju produk yang bisa digunakan masyarakat umum masih panjang, termasuk uji klinis dan proses regulasi. Namun ide dasarnya, membuat tubuh manusia berbicara melalui data yang bisa dibaca siapa saja, membuka kemungkinan baru dalam cara kita memahami dan merespons penyakit infeksi sejak dini.

Penulis: Siti Rahma
Editor: Arif Budiman