Internasional

Belanja Militer Global Tembus USD 2,9 Triliun pada 2025, Naik 11 Tahun Berturut-turut

15
×

Belanja Militer Global Tembus USD 2,9 Triliun pada 2025, Naik 11 Tahun Berturut-turut

Sebarkan artikel ini

Teras News — Pengeluaran militer dunia mencapai hampir USD 2,9 triliun atau setara Rp50.280 triliun sepanjang 2025, mencetak rekor baru sekaligus melanjutkan tren kenaikan yang tidak terputus selama 11 tahun terakhir.

Angka ini mencerminkan eskalasi ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di berbagai penjuru dunia, mulai dari konflik bersenjata di Eropa Timur hingga persaingan kekuatan militer di kawasan Indo-Pasifik.

Kenaikan Belanja Militer Selama Satu Dekade Lebih

Tren peningkatan anggaran pertahanan global sesungguhnya bukan fenomena baru. Sejak 2015, negara-negara di seluruh dunia secara konsisten menaikkan alokasi dana untuk sektor militer, didorong oleh meningkatnya ancaman keamanan, modernisasi alutsista, dan perluasan kapabilitas pertahanan siber. Kenaikan selama 11 tahun berturut-turut ini menjadi rentang waktu terpanjang dalam sejarah pencatatan pengeluaran pertahanan global pasca-Perang Dingin.

Nilai USD 2,9 triliun itu setara dengan produk domestik bruto gabungan sejumlah negara berkembang. Besaran ini memperlihatkan betapa besar sumber daya yang kini dialihkan ke sektor pertahanan oleh negara-negara di seluruh dunia.

Konflik dan Persaingan Dorong Anggaran Pertahanan Naik

Perang Rusia-Ukraina yang memasuki tahun ketiga menjadi salah satu pendorong utama lonjakan belanja militer, khususnya di kawasan Eropa. Negara-negara anggota NATO berlomba memenuhi target pengeluaran pertahanan sebesar 2 persen dari produk domestik bruto masing-masing, bahkan sejumlah anggota melampaui angka tersebut.

Di Asia, ketegangan di Selat Taiwan dan Laut China Selatan mendorong China, Amerika Serikat, serta negara-negara Asia Tenggara menaikkan anggaran pertahanan mereka. Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan belanja militer terbesar di dunia, jauh melampaui negara lain.

Teknologi juga turut mendorong pembengkakan biaya. Pengembangan drone tempur, sistem rudal hipersonik, serta pertahanan siber membutuhkan investasi yang jauh lebih besar dibanding pengadaan persenjataan konvensional.

Dampak terhadap Alokasi Anggaran Publik

Lonjakan belanja militer global menimbulkan pertanyaan soal prioritas anggaran negara. Dana sebesar USD 2,9 triliun yang mengalir ke sektor pertahanan merupakan sumber daya yang secara bersamaan dibutuhkan untuk pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan di banyak negara.

Sejumlah ekonom dan lembaga internasional sebelumnya telah memperingatkan bahwa perlombaan senjata yang terus meningkat dapat menggerus ruang fiskal negara-negara berkembang yang bergantung pada pinjaman luar negeri untuk membiayai pembangunan.

Dengan tidak ada tanda-tanda meredanya konflik di Ukraina maupun ketegangan di kawasan Asia Pasifik, tekanan untuk terus menaikkan anggaran pertahanan kemungkinan besar akan tetap kuat di tahun-tahun mendatang.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma