Teras News — Kemampuan Indonesia dalam eksplorasi panas bumi berbasis teknologi digital kini mendapat pengakuan di panggung global. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) meraih Founder’s Honors dalam ajang Going Digital Awards 2025 yang diselenggarakan Bentley Systems, sebuah perusahaan perangkat lunak infrastruktur asal Amerika Serikat.
Penghargaan itu diterima atas proyek Subsurface Analysis and Modeling Lumut Balai Unit 3, yang dinilai menghadirkan pendekatan pemodelan subsurface (lapisan bawah permukaan bumi) yang modern, terintegrasi, dan berbasis data. Pengumuman dilakukan pada Oktober 2025 dalam forum Year in Infrastructure di Amsterdam, Belanda.
Bersaing dengan 250 Proyek dari 47 Negara
Kompetisi ini bukan ajang kecil. Pada 2025, hampir 250 nominasi masuk dari 47 negara, disaring oleh panel juri independen. Dari ratusan proyek itu, hanya sejumlah terbatas yang meraih Founder’s Honors, yaitu penghargaan yang dipilih langsung oleh para pendiri Bentley Systems sebagai representasi karya paling inovatif dan berdampak secara global.
Baca Juga:
Perjalanan PGE ke podium penghargaan ini dimulai dari kompetisi pemodelan pada Juli 2025. Tim eksplorasi subsurface PGE mengikuti kompetisi dengan menggunakan perangkat lunak milik Bentley Systems untuk mengembangkan model subsurface Lumut Balai Unit 3.
Model Digital Pangkas Risiko Pengeboran
Pendekatan yang diusung PGE bukan sekadar digitalisasi biasa. Dengan metode geosains subsurface berbasis digital yang terintegrasi, perusahaan berhasil meningkatkan kualitas analisis reservoir sekaligus mempercepat pengambilan keputusan eksplorasi. Lebih dari itu, pendekatan ini terbukti mempercepat studi kelayakan, menurunkan risiko subsurface pengeboran secara signifikan, dan meningkatkan efisiensi biaya pengeboran.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi menjelaskan bahwa teknologi digital kini menjadi tulang punggung proses eksplorasi yang semakin kompleks.
“Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upaya kami dalam mengembangkan pemodelan subsurface yang semakin akurat, terukur, dan terintegrasi. Pemanfaatan teknologi digital dalam eksplorasi tidak hanya meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, tetapi juga membantu mengurangi risiko eksplorasi serta mempercepat pengembangan proyek panas bumi secara berkelanjutan,” kata Edwil, dikutip Kamis (30/4/2026).
Edwil menambahkan bahwa capaian ini memperkuat posisi PGE di skala internasional. “Hal ini sekaligus menjadi wujud nyata peran PGE sebagai world leading geothermal producer. Ke depan, pencapaian ini akan menjadi semangat kami dalam mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi sebagai tulang punggung transisi energi, sekaligus menegaskan kapabilitas eksplorasi panas bumi Indonesia di kancah internasional,” ujarnya.
Panas Bumi dan Transisi Energi Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia. Sumber daya ini menjadi salah satu andalan dalam agenda transisi energi nasional, sebagai pengganti pembangkit berbasis bahan bakar fosil. PGE, sebagai anak usaha Pertamina yang bergerak di sektor panas bumi, mengelola sejumlah wilayah kerja panas bumi di berbagai penjuru nusantara, termasuk di Sumatra Selatan tempat Lumut Balai beroperasi.
Proyek Lumut Balai Unit 3 sendiri merupakan bagian dari pengembangan kapasitas pembangkit panas bumi di kawasan tersebut. Pemodelan subsurface yang akurat menjadi kunci untuk menentukan potensi cadangan dan meminimalkan risiko sebelum pengeboran dilakukan, sebuah tahap yang menentukan kelayakan investasi jangka panjang.
Dengan pengakuan dari Bentley Systems ini, PGE menempatkan Indonesia dalam peta inovasi eksplorasi energi terbarukan global, dan menunjukkan bahwa transformasi digital di sektor energi dalam negeri terus berjalan nyata.
Editor: Surya Dharma