Berita

Stok Beras Aceh Capai 117.967 Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah Bulog Aceh

12
×

Stok Beras Aceh Capai 117.967 Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah Bulog Aceh

Sebarkan artikel ini

Teras News — Warga Aceh tidak perlu khawatir soal pasokan beras dalam waktu dekat. Cadangan beras di seluruh gudang Bulog se-Aceh saat ini mencapai 117.967 ton, jumlah yang disebut sebagai yang tertinggi sejak Bulog Aceh berdiri, dan diprediksi cukup hingga akhir 2026.

Kepastian stok pangan Aceh ini mencuat setelah anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid, menggelar kunjungan kerja ke Gudang Perum Bulog di Desa Ulee Blang Mane, Kota Lhokseumawe, Minggu (3/5/2026). Dari kunjungan itu, TA Khalid menyatakan ketahanan pangan Aceh berada dalam kondisi baik dan relatif terkendali.

Realisasi pengadaan beras dalam negeri sejak awal tahun sudah menyentuh 84.635 ton, atau 63,02 persen dari target yang ditetapkan. Bulog memperkirakan sisa target pengadaan sepanjang 2026 masih sekitar 49.654 ton lagi.

Rekor Stok, tapi Infrastruktur Pengolahan Masih Kurang

Wakil Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Aceh, Alhori, mengonfirmasi pencapaian itu. “Stok Bulog Aceh saat ini merupakan yang tertinggi sejak Bulog Aceh berdiri,” katanya.

Namun rekor stok itu ternyata menyimpan celah yang belum tertangani. TA Khalid menilai Aceh hingga kini belum memiliki Rice Milling Unit (RMU), atau fasilitas penggilingan padi modern milik Bulog sendiri. Tanpa RMU, gabah hasil panen petani lokal harus digiling di fasilitas lain yang tidak sepenuhnya terkontrol kualitasnya.

“Sudah saatnya Bulog Aceh memiliki RMU. Gabah kita melimpah, masa tidak ada penggilingan sendiri untuk menjaga kualitas produk,” ujar legislator dari Fraksi Gerindra tersebut.

Alhori menyatakan pihak Bulog siap menindaklanjuti usulan pembangunan RMU melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, terutama soal penyediaan lahan.

Gudang Beras Tersebar, Antisipasi Bencana

TA Khalid juga mendorong penambahan gudang penyimpanan beras di setiap kabupaten dan kota. Alasannya bukan sekadar soal kapasitas, melainkan soal keselamatan. Aceh dikenal sebagai daerah dengan risiko bencana alam yang tinggi, mulai dari gempa bumi hingga banjir dan tsunami. Gudang yang tersebar akan memastikan cadangan pangan tetap bisa diakses saat jalur distribusi terganggu akibat bencana.

“Kalau tidak ada cadangan beras saat bencana, itu bisa memicu kepanikan di masyarakat,” tegasnya.

CPO Melimpah, Kilang Minyak Belum Ada

Sorotan TA Khalid tidak berhenti di beras. Ia turut menyinggung potensi kelapa sawit Aceh yang menurutnya belum digarap optimal. Aceh merupakan salah satu penghasil crude palm oil (CPO), yakni minyak sawit mentah yang biasa diekspor atau dikirim ke luar daerah sebelum diolah menjadi minyak goreng siap pakai.

Tanpa fasilitas refinery (kilang pengolah CPO), Aceh selama ini masih bergantung pada pasokan minyak goreng dari daerah lain meski bahan bakunya justru berasal dari provinsi itu sendiri.

“Aceh melimpah CPO, tapi kenapa tidak kita olah sendiri. Kita bisa bangun refinery untuk memenuhi kebutuhan lokal, bahkan jika kompetitif bisa dipasarkan ke daerah lain seperti Medan,” kata TA Khalid.

Dengan cadangan beras yang mencatatkan rekor dan realisasi pengadaan yang berjalan di atas 60 persen dari target tahunan, posisi pangan Aceh saat ini relatif solid. Pertanyaannya kini berpindah ke infrastruktur: apakah pembangunan RMU dan gudang tambahan akan terealisasi sebelum musim panen berikutnya tiba.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Ratna Dewi