Berita

Kopi Kenangan Tahan Harga Jual Meski Plastik Mahal, Edward Tirtanata Andalkan Penurunan Harga Biji Kopi

9
×

Kopi Kenangan Tahan Harga Jual Meski Plastik Mahal, Edward Tirtanata Andalkan Penurunan Harga Biji Kopi

Sebarkan artikel ini

Teras News — Harga plastik dan kemasan kopi melonjak akibat gejolak harga minyak global, tapi Kopi Kenangan memilih tidak menaikkan harga jual ke konsumen. Strategi ini bertumpu pada satu harapan: penurunan harga komoditas kopi saat ini cukup untuk menutup selisih biaya kemasan yang membengkak.

Co-Founder sekaligus Group CEO Kopi Kenangan, Edward Tirtanata, mengungkapkan kalkulasi itu dalam program Closing Bell CNBC Indonesia, Rabu (29/4/2026). Ia mengakui kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung ke biaya operasional, khususnya pada plastik dan kemasan minuman. Namun Edward tetap optimistis bisnis kafe kopi masih punya ruang gerak di tengah ketidakpastian geopolitik global tahun ini.

Penurunan Harga Kopi Jadi Penyeimbang Biaya Kemasan

Harga komoditas kopi di pasar global belakangan mengalami koreksi ke bawah. Bagi Kopi Kenangan, momentum ini menjadi katup pengaman. Edward menjelaskan bahwa penurunan harga bahan baku kopi bisa mengkompensasi lonjakan biaya plastik, sehingga harga di gelas yang sampai ke tangan pelanggan tidak perlu diubah untuk saat ini.

Perlu dicatat, kemasan plastik adalah komponen biaya yang tidak bisa dihilangkan dari bisnis kopi kekinian. Setiap cangkir atau gelas yang dijual membawa biaya plastik di dalamnya, mulai dari gelas, sedotan, hingga kantong bawa. Ketika harga minyak mentah naik, biaya produksi plastik ikut terdorong naik secara otomatis karena plastik berbahan dasar turunan minyak bumi.

Target 1.400-an Gerai Tetap Dikejar di 2026

Gejolak eksternal tidak membuat Kopi Kenangan menekan rem ekspansi. Perusahaan tetap mengincar penambahan gerai baru di dalam negeri maupun di luar negeri sepanjang 2026, meski jumlah gerainya kini sudah menembus angka 1.400-an.

Edward menyebut tren minum kopi sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat masih kuat. Faktor inilah yang menopang keyakinannya bahwa permintaan tidak akan surut meski ada tekanan biaya dari sisi suplai. Kopi kekinian di Indonesia memang telah bertransformasi dari sekadar minuman menjadi bagian dari rutinitas sosial jutaan orang, terutama kelompok usia produktif di perkotaan.

Kopi Kenangan sendiri berdiri sebagai salah satu jaringan kafe kopi grab-and-go terbesar di Asia Tenggara, dengan model bisnis yang mengandalkan volume penjualan tinggi lewat gerai berformat kecil tanpa area duduk penuh. Model ini membuatnya sangat sensitif terhadap fluktuasi biaya bahan baku dan kemasan karena margin per gelas relatif tipis.

Waspadai Gejolak Global yang Belum Mereda

Edward tidak menutup mata terhadap risiko yang masih mengintai. Ketidakpastian geopolitik global, termasuk tensi perdagangan antarnegara besar, berpotensi kembali mendorong harga minyak naik dan menekan nilai tukar rupiah. Jika kondisi itu terjadi, tekanan biaya kemasan bisa kembali meningkat sementara harga komoditas kopi belum tentu turun lebih jauh.

Untuk saat ini, keseimbangan antara dua variabel itu, yakni harga biji kopi yang turun versus biaya plastik yang naik, masih memungkinkan Kopi Kenangan menahan harga jual. Seberapa lama keseimbangan itu bertahan akan sangat bergantung pada arah pergerakan harga minyak dan komoditas kopi di kuartal-kuartal berikutnya.

Penulis: Ratna Dewi
Editor: Arif Budiman