Internasional

Spirit Airlines Tutup Permanen, Ribuan Penumpang Terlantar Usai Dana Talangan Rp8,5 Triliun Gagal Didapat

10
×

Spirit Airlines Tutup Permanen, Ribuan Penumpang Terlantar Usai Dana Talangan Rp8,5 Triliun Gagal Didapat

Sebarkan artikel ini

Teras News — Dana talangan Rp8,5 triliun tak berhasil diraih, Spirit Airlines kini resmi berhenti beroperasi selamanya. Maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat itu mengumumkan penutupan total pada Senin (4/5/2026), membatalkan seluruh penerbangan secara serentak dan meninggalkan ribuan penumpang dalam kepanikan di berbagai bandara.

Dalam pernyataan resminya, Spirit menyebut keputusan itu diambil “dengan kekecewaan besar”. Perusahaan bahkan meminta penumpang untuk tidak datang ke bandara. “Semua penerbangan Spirit telah dibatalkan, dan penumpang tidak boleh pergi ke bandara,” tulis perusahaan, seperti dikutip BBC International.

Penumpang Baru Tahu dari Email Pukul 1 Pagi

Kekacauan langsung terasa di lapangan. Seorang penumpang mengaku baru menerima email pembatalan sekitar pukul 1 pagi, tepat setelah ia sudah berada di bandara. Penumpang lain terpaksa membeli tiket pengganti seharga US$180 (sekitar Rp3,06 juta), jauh lebih mahal dari tiket Spirit yang semula hanya US$108 (sekitar Rp1,84 juta).

“Saya pikir aplikasinya diretas. Tapi ternyata nyata, dan saya harus cepat cari penerbangan pulang,” kata penumpang tersebut.

Maskapai lain bergerak cepat mengisi celah. Delta Air Lines, United Airlines, American Airlines, dan Frontier Airlines langsung menawarkan tarif khusus bagi penumpang Spirit yang terdampak.

Harga Avtur Jadi “Paku Terakhir di Peti Mati”

Spirit sebenarnya baru saja keluar dari proses kebangkrutan keduanya beberapa bulan lalu. CEO Spirit Dave Davis mengungkapkan bahwa kesepakatan restrukturisasi dengan pemegang obligasi sempat tercapai pada Maret 2026. Namun lonjakan harga avtur pasca eskalasi konflik AS-Iran mengubah segalanya.

“Kenaikan harga bahan bakar yang tiba-tiba dan berkelanjutan dalam beberapa minggu terakhir akhirnya membuat kami tidak punya pilihan selain menutup perusahaan,” ujar Davis.

Analis maskapai dari Raymond James, Savanthi Syth, menyebut lonjakan harga bahan bakar sebagai “paku terakhir di peti mati” bagi Spirit. Biaya bahan bakar bisa mencapai 40 persen dari total pengeluaran maskapai, dan harga avtur dilaporkan melonjak tajam sejak konflik bersenjata pecah.

Pemerintah AS menolak klaim bahwa perang menjadi pemicu utama kebangkrutan ini. Menteri Transportasi Sean Duffy berargumen masalah Spirit jauh lebih dalam dari sekadar harga bahan bakar. “Model bisnis mereka tidak berhasil. Perang bukanlah pemicunya,” katanya.

Serikat Pekerja: Ribuan Karyawan Jadi Korban Salah Urus Manajemen

Serikat pekerja International Association of Machinists and Aerospace Workers (IAM) bereaksi keras. Bagi IAM, tutupnya Spirit bukan sekadar angka kerugian bisnis, melainkan pukulan langsung bagi ribuan karyawan yang kehilangan pekerjaan.

“Ini sangat menghancurkan. Anggota kami tidak menyebabkan kegagalan ini; kesalahan manajemen dan tata kelola keuangan yang buruklah penyebabnya,” tegas IAM.

Kolapsnya Spirit mempertegas tekanan berat yang menghimpit industri penerbangan global saat ini. Selain lonjakan biaya bahan bakar, sejumlah maskapai mulai memangkas frekuensi penerbangan dan mendongkrak tarif demi bertahan. Bagi penumpang yang sudah memegang tiket Spirit, pilihan kini mengerucut pada satu hal: mencari maskapai lain, dengan harga yang jauh lebih tinggi dari yang pernah mereka bayar.

Penulis: Dian Permata
Editor: Surya Dharma