Internasional

Trump Kerahkan Lebih dari 100 Pesawat dan Kapal Perang di Selat Hormuz dalam Operasi Bernama ‘Proyek Kebebasan’

8
×

Trump Kerahkan Lebih dari 100 Pesawat dan Kapal Perang di Selat Hormuz dalam Operasi Bernama ‘Proyek Kebebasan’

Sebarkan artikel ini

Teras News — Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, menjadi ajang unjuk kekuatan militer Amerika Serikat. Di bawah komando Presiden Donald Trump, AS resmi meluncurkan operasi bertajuk Proyek Kebebasan di perairan strategis itu, mengerahkan lebih dari 100 pesawat tempur dan kapal perang sekaligus.

Operasi ini menandai upaya langsung Washington untuk menembus dominasi Iran di Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia melintas di perairan ini setiap harinya, menjadikannya titik paling rawan di peta energi global.

Iran Kuasai Tepi Selat Hormuz Selama Puluhan Tahun

Iran memang bukan pemain baru di Selat Hormuz. Teheran telah lama membangun jaringan pertahanan berlapis di sepanjang pantainya yang menghadap langsung ke selat tersebut, mulai dari pangkalan rudal hingga armada kapal cepat Garda Revolusi (IRGC). Ancaman penutupan selat sudah berulang kali dilemparkan Iran sebagai kartu tekanan setiap kali ketegangan dengan Barat memuncak.

Pengerahan lebih dari 100 aset militer AS dalam satu operasi tunggal mencerminkan skala misi yang jauh melampaui latihan rutin. Ini bukan patroli biasa.

Washington Beri Nama Operasi: Proyek Kebebasan

Trump secara langsung mengaitkan namanya dengan operasi ini. Nama “Proyek Kebebasan” dipilih sebagai pernyataan simbolis bahwa AS tidak akan membiarkan satu negara pun mengontrol akses ke jalur laut internasional sepenting Selat Hormuz.

Rincian teknis operasi, termasuk jenis kapal induk yang dikerahkan dan komposisi skuadron udara yang terlibat, belum dirilis secara resmi oleh Pentagon hingga berita ini diturunkan.

Ketegangan di Selat Hormuz kembali menghangat di tengah babak baru negosiasi nuklir antara AS dan Iran yang berlangsung alot. Langkah militer ini berjalan bersamaan dengan tekanan diplomatik yang terus dilancarkan Washington terhadap Teheran, menciptakan situasi di mana meja perundingan dan kesiagaan tempur berjalan beriringan.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma