Teras News — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah ke level Rp17.425 per USD, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut musim haji sebagai salah satu faktor yang memperburuk tekanan terhadap mata uang domestik.
Airlangga menjelaskan bahwa kebutuhan dolar melonjak setiap tahun ketika musim haji berlangsung. Jutaan calon jamaah haji Indonesia dan biaya operasional penyelenggaraan ibadah haji membutuhkan konversi rupiah ke valuta asing dalam jumlah besar, sehingga permintaan dolar naik signifikan dalam periode tersebut.
Airlangga: Demand Dolar Naik karena Haji
“Demand dolar meningkat,” kata Airlangga, merujuk pada lonjakan kebutuhan valuta asing yang terjadi bersamaan dengan musim haji tahun ini.
Baca Juga:
Setiap tahun, Indonesia memberangkatkan ratusan ribu jamaah haji ke Arab Saudi. Biaya perjalanan ibadah haji, termasuk ongkos penerbangan, akomodasi, dan berbagai layanan di Tanah Suci, umumnya dikonversi ke dolar AS atau riyal Saudi, yang berarti pergerakan dana keluar dari rupiah terjadi dalam volume besar dan dalam waktu yang relatif bersamaan.
Tekanan musiman seperti ini bukan kejadian baru di pasar valuta asing Indonesia. Setiap memasuki periode pemberangkatan haji, rupiah kerap menghadapi tekanan tambahan karena arus konversi mata uang yang terkonsentrasi dalam rentang waktu singkat.
Rupiah di Level Rp17.425, Bukan Anomali Tunggal
Pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.425 per dolar tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar global yang juga sedang bergejolak. Ketidakpastian ekonomi dunia, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang cenderung bertahan tinggi, turut menekan sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun Airlangga menyoroti faktor domestik musiman ini sebagai elemen yang memperparah kondisi nilai tukar saat ini. Permintaan dolar yang meningkat dari sisi kebutuhan haji datang di saat tekanan eksternal juga belum mereda.
Pemerintah dan Bank Indonesia selama ini memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan pengelolaan cadangan devisa. Publik kini menunggu respons lebih lanjut dari otoritas moneter seiring rupiah bertahan di level yang tertekan.
Editor: Surya Dharma