Berita

Pasar Dirgantara Indonesia Diprediksi Tumbuh 4 Kali Lipat di 2045, Bappenas Teken Kerja Sama dengan Airbus

13
×

Pasar Dirgantara Indonesia Diprediksi Tumbuh 4 Kali Lipat di 2045, Bappenas Teken Kerja Sama dengan Airbus

Sebarkan artikel ini

Teras News — 477 juta penumpang — angka itulah yang diproyeksikan akan memenuhi rute-rute penerbangan Indonesia dalam dua dekade mendatang. Bappenas dan Airbus meneken kerja sama pengembangan ekosistem industri dirgantara Indonesia di Jakarta, Rabu (6/5/2026), dengan target pertumbuhan pasar hingga empat kali lipat pada 2045.

Penandatanganan kerja sama itu berlangsung di kantor Bappenas. Hadir langsung dalam acara tersebut Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Presiden Airbus Asia Pacific Anand Stanley.

Airbus: 17.000 Pulau Jadi Daya Tarik Pasar Penerbangan RI

Stanley membuka paparannya dengan menyebut kondisi geografis Indonesia sebagai faktor utama yang membuat pasar dirgantara nasional sangat menjanjikan. Negara kepulauan dengan sekitar 17.000 pulau, kata Stanley, secara alami membutuhkan transportasi udara yang andal dan terus berkembang.

“Pasar dirgantara Indonesia cukup menjanjikan, di mana ada 17.000 pulau di Indonesia, sehingga pesawat kini menjadi transportasi cukup penting dan paling cepat,” kata Stanley dalam paparannya.

Proyeksi yang ia sampaikan cukup besar. Pasar dirgantara Indonesia berpotensi tumbuh empat kali lipat pada 2045, didorong oleh laju pertumbuhan komponen industri secara tahunan sebesar 7,4 persen. “Tapi hal yang penting adalah pasar akan berkembang 4 kali pada tahun 2045, dengan perkembangan komponen secara anual 7,4%,” terang Stanley.

Frekuensi Terbang Per Kapita Diprediksi Naik Tiga Kali Lipat dalam 20 Tahun

Rachmat Pambudy memperkuat angka-angka itu dari sisi permintaan domestik. Saat ini, frekuensi penerbangan Indonesia baru menyentuh 0,4 perjalanan per kapita per tahun. Dalam 20 tahun ke depan, angka itu diprediksi melonjak ke 1,4 perjalanan per kapita per tahun.

“Saat ini, jumlah penerbangan di Indonesia mencapai 0,4 perjalanan per kapita per tahun, angkanya diperkirakan meningkat hingga 1,4 perjalanan per kapita per tahun dalam 20 tahun. Sejalan itu, trafik penumpang udara diperkirakan tumbuh rata-rata 7,4% per tahun, yang akan mencapai sekitar 477 juta penumpang. Artinya diperlukan ekspansi kapasitas armada udara untuk menjawab kebutuhan tersebut,” papar Rachmat.

Dorongan permintaan itu, menurutnya, tidak datang dari satu faktor tunggal. Kelas menengah yang terus tumbuh dan kebutuhan akan transportasi antarpulau yang cepat dan aman mendorong masyarakat beralih ke jalur udara. “Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau, masyarakat sekarang banyak yang memilih transportasi antar pulau yang lebih cepat, sehingga transportasi udara kini menjadi andalan masyarakat, di mana hal ini juga didorong oleh meningkatnya kelas menengah,” kata Rachmat.

Industri Dirgantara RI Disebut Belum Maksimal

Rachmat juga menyinggung kondisi industri dirgantara dalam negeri yang ia nilai sudah mencapai tingkat tertentu, namun potensinya belum sepenuhnya digarap. Kerja sama dengan Airbus menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk kembali menggerakkan sektor itu.

“Kita tumbuh berkembang dengan industri manufaktur yang sangat canggih, yaitu industri manufaktur di bidang dirgantara. Ini artinya kita sudah naik kelas. Industri yang paling tinggi selama ini adalah industri dirgantara, yang seringkali sulit dijangkau,” terang Rachmat.

Kerja sama Bappenas dengan Airbus ini menargetkan terbentuknya ekosistem industri dirgantara yang lebih terintegrasi — mulai dari pengembangan kapasitas armada hingga rantai pasok komponen dalam negeri. Pemerintah belum merinci jadwal atau target spesifik dari kerja sama tersebut, dan realisasinya akan bergantung pada seberapa cepat ekosistem pendukung industri penerbangan nasional bisa dibangun dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Penulis: Siti Rahma
Editor: Surya Dharma