Berita

APBN Defisit Rp240,1 Triliun per Maret 2026, Purbaya: Belanja Negara Berjalan Ekspansif

9
×

APBN Defisit Rp240,1 Triliun per Maret 2026, Purbaya: Belanja Negara Berjalan Ekspansif

Sebarkan artikel ini

Teras News — Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit Rp240,1 triliun hingga akhir Maret 2026. Meski angka itu tampak besar, pemerintah menyebut kondisi tersebut mencerminkan pola belanja yang justru sedang berjalan kencang.

“APBN tumbuh ekspansif hingga Maret 2026,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangannya.

Defisit Bukan Selalu Tanda Bahaya

Dalam konteks fiskal, defisit anggaran tidak otomatis berarti keuangan negara dalam masalah. Pemerintah kerap sengaja menjalankan postur defisit di awal tahun untuk mendorong belanja lebih cepat, terutama di sektor infrastruktur dan perlindungan sosial. Pola ini lazim disebut belanja ekspansif: negara mengeluarkan uang lebih banyak dari penerimaan dengan harapan roda ekonomi berputar lebih kencang.

Defisit Rp240,1 triliun yang tercatat per Maret 2026 menunjukkan realisasi belanja negara sudah berjalan di kuartal pertama tahun ini. Purbaya menegaskan tren ini disengaja sebagai bagian dari strategi fiskal pemerintah untuk menopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.

Penerimaan Negara Jadi Kunci di Kuartal Berikutnya

Tantangan sesungguhnya akan terlihat dari sisi penerimaan. Jika pendapatan pajak dan non-pajak mampu mengejar laju belanja di kuartal kedua dan seterusnya, defisit bisa terkelola dalam batas aman yang ditetapkan undang-undang, yakni maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sebaliknya, jika penerimaan melambat sementara belanja tetap agresif, ruang fiskal pemerintah bisa menyempit di penghujung tahun.

Publik dan pelaku pasar kini menunggu laporan realisasi APBN kuartal berikutnya untuk melihat apakah tren ekspansif ini bisa diimbangi oleh kinerja penerimaan yang solid.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Ratna Dewi