Berita

Inotek Award 2026 Ponorogo Dibuka, Dinas hingga Desa Bersaing di 6 Kategori Inovasi

9
×

Inotek Award 2026 Ponorogo Dibuka, Dinas hingga Desa Bersaing di 6 Kategori Inovasi

Sebarkan artikel ini

Teras News — Ratusan unit layanan publik di Ponorogo kini punya panggung resmi untuk membuktikan inovasi mereka. Mulai dari puskesmas di pelosok kecamatan, sekolah dasar, hingga kantor desa, semuanya bisa bersaing dalam Ponorogo Inotek Award (PIA) 2026 yang resmi diluncurkan Pemerintah Kabupaten Ponorogo melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida).

Kepala Bidang Riset dan Inovasi Bapperida Ponorogo, Eulis Liawati, menyampaikan hal itu dalam sosialisasi PIA 2026 pada Selasa (5/5/2026). “Lomba inovasi dan teknologi ini menjadi wadah strategis untuk menjaring sekaligus mengembangkan inovasi yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan publik,” katanya.

Enam Kategori, Penilaian Berlangsung Sampai November 2026

PIA 2026 membuka enam kategori peserta: perangkat daerah (mencakup dinas, badan, bagian, kecamatan, dan RSUD), pendidikan dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi, puskesmas, serta desa. Proses penilaian dimulai Mei dan baru tuntas November 2026, melewati tahapan pengumpulan proposal, verifikasi, presentasi, hingga penetapan pemenang.

Sistem penilaiannya memadukan dua bobot: 60 persen untuk tingkat kematangan inovasi dan 40 persen untuk paparan atau presentasi. Lima juri dilibatkan, terdiri dari akademisi, perwakilan media, Bapperida Provinsi Jawa Timur, dan Bapperida Ponorogo sendiri.

Eulis menjelaskan bahwa penilaian mengacu pada 20 indikator dari Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN). “Kami menggunakan 20 indikator penilaian dari BSKDN, mulai dari regulasi, SDM, anggaran, hingga dampak dan manfaat inovasi. Jadi yang dinilai bukan hanya ide, tetapi juga implementasi dan keberlanjutannya,” ungkapnya.

Skor Inovasi Ponorogo Naik Turun, Tertinggi di 2019

Latar belakang gelaran ini bukan tanpa alasan. Capaian inovasi Ponorogo dalam penilaian Innovative Government Award (IGA) selama beberapa tahun terakhir bergerak fluktuatif. Nilai tertinggi tercatat pada 2019 di kisaran angka 60. Setelah itu, angkanya bergerak tak stabil: 51,46 pada 2022, turun ke 44,52 pada 2023, naik ke 53,68 pada 2024, lalu kembali turun ke 51,26 pada 2025.

“Secara kualitatif kita tetap inovatif, tetapi secara kuantitatif memang naik turun. Ini menjadi evaluasi bersama agar ke depan lebih stabil dan meningkat,” kata Eulis.

Dia mengakui ada tiga hambatan utama yang kerap menjegal peningkatan nilai inovasi daerah: kelengkapan data dukung, keberlanjutan program inovasi, dan kuatnya komitmen dari pimpinan perangkat daerah. “Banyak inovasi sebenarnya sudah berjalan, tetapi yang sering menjadi kendala adalah data dukung dan keberlanjutan ketika terjadi pergantian,” jelasnya.

Inovasi Bukan Sekadar Ide di Atas Kertas

Eulis menekankan bahwa PIA bukan kompetisi formalitas. “Inovasi itu bukan sekadar program, tetapi bagaimana kita bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing daerah,” tegasnya.

Ajang ini dirancang agar inovasi tumbuh merata di semua lini layanan, bukan hanya di dinas-dinas besar di pusat kota. Dengan membuka pintu bagi pemerintah desa dan puskesmas, Bapperida ingin mendorong ekosistem inovasi yang menjangkau layanan paling dekat dengan warga.

Pengumuman pemenang PIA 2026 dijadwalkan setelah seluruh tahapan rampung pada November mendatang. Hasilnya kelak juga akan mempengaruhi posisi Ponorogo dalam penilaian IGA tingkat nasional.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Ratna Dewi