Teras News — Warga pengguna tabung gas 3 kilogram bersubsidi mungkin akan segera bertemu dengan pilihan bahan bakar baru di dapur mereka. Pemerintah menargetkan CNG (Compressed Natural Gas), atau gas alam terkompresi, mulai bisa dikonsumsi masyarakat tahun ini sebagai pengganti LPG 3 kg yang selama ini bergantung besar pada impor.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan rencana itu dalam acara diskusi yang digelar ASPEBINDO di Jakarta, Rabu (6/5/2026). Pemerintah kini tengah mematangkan pola distribusi dan menyiapkan infrastruktur pendukung di lapangan agar transisi dari LPG ke CNG bisa berjalan.
“Ditargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat,” kata Laode.
Baca Juga:
Impor LPG Tembus 7 Juta Ton per Tahun, Devisa Negara Terkuras
Angkanya tidak kecil. Indonesia saat ini harus mengimpor 7 hingga 8 juta ton LPG per tahun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sementara produksi LPG nasional terus merosot sejak 2010 dan kini hanya tersisa sekitar 1,6 juta ton per tahun. Artinya, sekitar 75 hingga 80 persen kebutuhan LPG dalam negeri dipasok dari luar negeri.
Ketergantungan itu makin berat seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi. “Dari tahun ke tahun dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kita akan terus menambah impor LPG kalau tidak bisa kita konversikan ke sumber yang lain,” ujar Laode.
CNG hadir sebagai jawaban atas ketergantungan itu. Berbeda dengan LPG yang bahan bakunya semakin langka di dalam negeri, sumber gas untuk CNG tersedia dari lapangan-lapangan migas nasional. Laode menyebut, setelah dihitung dan disimulasikan, penggunaan CNG bisa menghemat sekitar 30 persen dibanding LPG impor.
“Kalau ini gasnya ada dari hasil kita sendiri, jaraknya juga tidak jauh. Jadi setelah dihitung-hitung disimulasikan bisa menghemat sekitar 30-an persen seperti yang sudah diumumkan oleh Bapak Menteri,” katanya.
Kota Besar di Jawa Jadi Titik Awal
Rollout CNG tidak akan serentak di seluruh Indonesia. Pemerintah memilih memulai dari kota-kota besar di Jawa, yang dinilai memiliki infrastruktur paling siap untuk mendukung distribusi gas jenis ini.
“Bertahap di kota-kota besar dulu di Jawa. Roadmap-nya adalah tentu kita ada karena ini belum diumumkan oleh Pak Menteri, tapi intinya ke depan kita akan mereduksi LPG kita, kita gantikan dengan CNG,” tandas Laode.
CNG adalah gas alam yang dipadatkan di bawah tekanan tinggi sehingga volumenya jauh lebih kecil dan mudah disimpan dalam tabung khusus. Gas jenis ini selama ini lebih dikenal sebagai bahan bakar kendaraan, namun kini dikaji untuk kebutuhan memasak rumah tangga sebagai pengganti tabung melon.
Menteri ESDM Bahlil Kaji Skema Subsidi CNG
Satu pertanyaan besar yang belum terjawab adalah soal subsidi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah masih mengkaji apakah CNG juga akan mendapat subsidi seperti LPG 3 kg selama ini.
“Semuanya lagi dikaji. Opsinya subsidi masih haruslah, tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca ya,” kata Bahlil usai rapat terbatas di Istana Negara, Selasa (5/5/2026).
Bagi jutaan keluarga penerima subsidi gas melon, kepastian soal harga dan ketersediaan CNG di tingkat konsumen menjadi faktor penentu apakah transisi ini akan berjalan mulus atau memicu keresahan. Pemerintah belum mengumumkan detail roadmap lengkap, termasuk jadwal pasti dan mekanisme distribusi ke tingkat pengecer.
Editor: Arif Budiman