Teras News — 4.000 ton. Itulah target penyerapan beras yang ditetapkan Bulog Madura untuk tahun 2026, dan realisasinya kini hampir menyentuh 100 persen — jauh sebelum tutup tahun. Kondisi ini terungkap saat Anggota Komisi I DPR RI, R.H. Imron Amin, meninjau gudang Perum Bulog Bangkalan di kompleks pergudangan Mlajah, Madura, pada Senin (4/5).
Stok Beras Madura Aman 8 hingga 10 Bulan ke Depan
Kunjungan Imron Amin bukan sekadar formalitas. Ia langsung berkoordinasi dengan jajaran Kanwil Bulog Madura dan menerima paparan soal posisi stok, serapan gabah petani, serta kapasitas distribusi. Hasilnya menggembirakan bagi warga Madura.
“Alhamdulillah, setelah kita tinjau bersama Kanwil Bulog Madura, sesuai data yang disampaikan, ketahanan pangan kita bisa bertahan 8–10 bulan ke depan,” ujar Imron.
Baca Juga:
Delapan hingga sepuluh bulan berarti stok yang ada saat ini mampu menanggung kebutuhan pangan masyarakat Madura setidaknya hingga awal 2027. Proses penyerapan dari petani pun masih terus berjalan. “Hingga kini penyerapan beras dari masyarakat tetap berlangsung, jadi untuk ketahanan pangan kita ini sudah sangat baik,” sambung Imron.
Bulog Bangkalan: Target 4.000 Ton Nyaris Terlampaui
Dari sisi operasional, Pimpinan Cabang Bulog Madura, Achmad Rofi’i, mengonfirmasi pencapaian yang melampaui ekspektasi awal. Target tahunan sebesar 4.000 ton sudah hampir sepenuhnya terpenuhi, padahal tahun belum berakhir.
“Target penyerapan tahun ini sebanyak 4.000 ton, dan alhamdulillah saat ini hampir 100 persen tercapai. Namun, penyerapan tetap kami lanjutkan hingga akhir tahun, dan tidak menutup kemungkinan bisa melebihi target,” jelas Achmad.
Kendala di lapangan? Achmad menyebut sejauh ini nihil masalah dalam penyerapan dari petani. Hanya ada satu catatan yang ia sampaikan: ketersediaan penggilingan padi skala besar di Bangkalan masih terbatas. “Ke depan, kami berharap adanya tambahan penggilingan besar agar penyerapan bisa lebih optimal, mengingat di Madura masih terbatas,” ungkapnya.
Pemkab Bangkalan Mulai Produksi Beras Sendiri
Satu perkembangan yang turut disoroti Imron adalah inisiatif Pemerintah Kabupaten Bangkalan yang kini mulai memproduksi beras sendiri lewat dukungan fasilitas penggilingan padi. Langkah ini ia nilai positif untuk memperkuat suplai lokal.
“Menurut saya itu sangat bagus, karena selain adanya penggilingan padi besar, hal ini juga membantu penyaluran beras dari petani kita sendiri,” kata Imron.
Penggilingan padi skala besar berperan krusial dalam rantai pasok beras daerah. Tanpa fasilitas pengolahan yang memadai, gabah hasil panen petani tidak bisa langsung diserap Bulog dalam bentuk beras. Kehadiran fasilitas baru di Bangkalan diharapkan mengisi celah itu, sekaligus menekan ketergantungan Madura pada suplai beras dari luar pulau.
Dengan target serap yang hampir tembus 100 persen dan stok yang diproyeksikan bertahan hingga melewati semester pertama 2027, perhatian kini tertuju pada apakah Bulog Madura benar-benar mampu melampaui angka 4.000 ton sebelum Desember, dan seberapa cepat fasilitas penggilingan tambahan bisa terwujud di Bangkalan.
Editor: Arif Budiman