Berita

CNG Bisa Hemat 30 Persen Dibanding LPG, Pemerintah Targetkan Konsumsi Massal Tahun Ini

12
×

CNG Bisa Hemat 30 Persen Dibanding LPG, Pemerintah Targetkan Konsumsi Massal Tahun Ini

Sebarkan artikel ini

Teras News — Tagihan gas rumah tangga berpotensi turun hingga 30 persen jika pemerintah berhasil mengalihkan konsumsi masyarakat dari LPG ke Compressed Natural Gas (CNG), gas alam yang dimampatkan bertekanan tinggi. Pemerintah menargetkan CNG sudah bisa dikonsumsi masyarakat luas sebelum akhir 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut selisih harga itu bukan angka perkiraan sembarangan. Kajian sudah rampung. “CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30% lah lebih murah,” kata Bahlil usai meninggalkan Istana Negara, dikutip Rabu (6/5/2026).

Kenapa bisa lebih murah? Jawabannya sederhana: bahan bakunya ada di dalam negeri. Bahlil menjelaskan sumber gas untuk CNG tersebar di hampir seluruh lapangan migas nasional, sehingga tidak perlu impor. “Jadi kita tidak melakukan impor, cost transportasinya saja sudah bisa mengcover,” ujarnya.

Produksi LPG Nasional Terus Menyusut, Impor Makin Besar

Di balik rencana ini ada tekanan nyata pada keuangan negara. Produksi LPG nasional terus merosot sejak 2010 dan kini hanya tersisa sekitar 1,6 juta ton per tahun. Angka itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang terus tumbuh seiring pertambahan penduduk.

Akibatnya, Indonesia terpaksa mendatangkan pasokan LPG dari luar negeri dalam jumlah besar setiap tahunnya. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengingatkan tren ini tidak akan berbalik dengan sendirinya. “Artinya dari tahun ke tahun dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kita akan terus menambah impor LPG kalau tidak bisa kita konversikan ke sumber yang lain,” tegasnya dalam diskusi yang digelar ASPEBINDO di Jakarta.

CNG menjadi jawaban yang disiapkan pemerintah untuk memutus ketergantungan impor itu. Berbeda dengan LPG yang bahan bakunya terbatas, gas untuk CNG bisa dipasok dari lapangan-lapangan migas dalam negeri. Laode menyebut simulasi perhitungan sudah menghasilkan angka yang sama dengan yang diumumkan Bahlil. “Kalau ini gasnya ada dari hasil kita sendiri, jaraknya juga tidak jauh. Jadi setelah dihitung-hitung disimulasikan bisa menghemat sekitar 30-an persen,” katanya.

Sudah Dipakai di Hotel, Restoran, hingga Dapur Program MBG

CNG bukan teknologi baru di Indonesia. Bahlil menyebut penggunaan skala besar sudah berjalan di berbagai wilayah Jawa. Hotel, restoran, bahkan dapur-dapur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah menggunakan jenis gas ini. “Dan kalau ditanya apakah sudah perform untuk jalan atau tidak, pada skala yang besar sudah jalan. Di daerah-daerah Jawa kan sudah dipakai CNG. Hotel, restoran, kemudian MBG dapur-dapur MBG sudah pakai itu,” jelasnya.

Untuk memperluas jangkauan ke rumah tangga biasa, Laode mengaku pihaknya masih mematangkan pola distribusi dan infrastruktur pendukung di lapangan. Distribusi akan dimulai dari kota-kota besar dengan infrastruktur yang paling siap, sebelum diperluas ke seluruh wilayah Indonesia secara bertahap.

Kini, pertanyaan yang paling ditunggu warga adalah seberapa cepat infrastruktur itu benar-benar siap menjangkau dapur-dapur rumah tangga, bukan hanya hotel dan restoran besar. Pemerintah masih punya sisa tahun ini untuk membuktikan target tersebut.

Penulis: Dian Permata
Editor: Arif Budiman