Teras News — Industri otomotif Indonesia mencatat pertumbuhan penjualan sekitar 9-10 persen dibanding tahun lalu, meski Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 17-18 Juni 2026. Dalam kurang dari sebulan, BI telah mengerek suku bunga tiga kali berturut-turut dengan total kenaikan 100 basis poin.
“Kondisinya kalau secara market dibandingkan tahun lalu membaik ya. Dibandingkan tahun lalu membaik, angkanya itu meningkat sekitar 9-10%,” kata Sri Agung Handayani, Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, kepada CNBC Indonesia, Senin (22/6/2026).
Kenaikan BI Rate Tiga Kali dalam Sebulan, Otomotif Terancam Tertekan
Agung mengakui kenaikan BI Rate berpotensi menekan penjualan kendaraan. Kredit kendaraan selama ini menjadi tulang punggung transaksi di pasar otomotif nasional, sehingga pergerakan bunga pinjaman langsung berdampak pada kemampuan konsumen membeli mobil baru.
Baca Juga:
“Bisa jadi, sangat berpotensi. Tinggal kita lihat apakah hanya melihat rate-nya saja ataukah diberikan kemudahan bagi customer misalnya cicilan 8 tahun, walaupun persentasenya masih sedikit ya sekarang. Jadi diberi kemudahannya bukan saja pada saat dia membayar tapi pada kemampuannya, diperpanjang masa pembayarannya,” ujarnya.
Perpanjangan tenor kredit menjadi salah satu opsi yang Daihatsu nilai mampu menjaga daya beli konsumen tanpa harus menunggu suku bunga turun kembali.
Leasing Punya Sumber Dana Berbeda, Transmisi Bunga Tidak Serentak
Kenaikan BI Rate tidak otomatis langsung mengangkat bunga kredit kendaraan di semua perusahaan pembiayaan. Agung menjelaskan, setiap leasing memiliki struktur pendanaan yang berbeda, sebagian tidak bergantung sepenuhnya pada sumber domestik.
“Karena itu dilakukan oleh leasing company, leasing company itu source dari funding-nya berbeda-beda. Jadi biasanya mereka masih punya kecukupan ya, lending rate-nya belum tentu dari domestik soalnya. Tapi ada beberapa yang dari domestik. Jadi pasti mereka punya perhitungan sendiri,” jelasnya.
Soal kapan kenaikan BI Rate akan sepenuhnya tercermin pada cicilan kredit kendaraan, Agung mengaku tidak bisa memastikan. Keputusan ada di tangan masing-masing perusahaan pembiayaan sesuai kondisi likuiditas mereka. “Berapa lamanya saya tidak tahu pasti, saya tidak bisa menjawab berapa lamanya,” katanya.
Daya Beli Tidak Hanya Soal Bunga dan Kurs
Agung menegaskan kondisi pasar otomotif tidak bisa dibaca hanya dari dua variabel, yakni nilai tukar rupiah dan BI Rate. Faktor lain turut membentuk keputusan konsumen dalam membeli kendaraan.
“Kalau pasar saat ini sebenarnya kan daya beli itu tidak melulu ditentukan oleh exchange rate atau BI Rate. Jadi banyak faktor sebenarnya,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa dampak kenaikan suku bunga tidak bersifat instan. Pasar tidak akan langsung memburuk dalam hitungan hari setelah kebijakan diumumkan.
Dengan pertumbuhan 9-10 persen year-on-year yang sudah tercatat, industri otomotif kini memasuki paruh kedua 2026 dengan modal positif namun tetap waspada terhadap arah kebijakan moneter BI yang belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.
Editor: Surya Dharma