Teras News — Sabtu (20/6), Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen tiba di Ambon, Maluku, untuk kunjungan kerja yang bukan sekadar pertemuan diplomatik biasa. Ia datang atas undangan Wali Kota Ambon, hadir di tengah masyarakat yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis pendukung paling fanatik tim nasional Belanda di luar Eropa.
Bagi Marc, pemandangan warga Ambon berkonvoi mengenakan jersey oranye usai kemenangan Belanda bukan cerita asing. Video-video itu sudah lama beredar dan ditonton jutaan orang di Belanda.
“Masyarakat di Belanda sering kali terkejut sekaligus sangat senang ketika melihat video bendera Belanda, orang-orang mengenakan jersey oranye, dan perayaan di Maluku setelah pertandingan,” kata Marc kepada Antara di sela kunjungannya.
Baca Juga:
Dari Simon Tahamata ke Tijjani Reijnders: Jejak Maluku di Lapangan Hijau Belanda
Marc menyebut satu per satu nama pesepak bola keturunan Maluku yang telah mengharumkan sepak bola Belanda. Simon Tahamata, legenda Ajax dan timnas Belanda era 1980-an. Giovanni van Bronckhorst, kapten yang membawa Belanda ke final Piala Dunia 2010. Kini Tijjani Reijnders, gelandang AC Milan yang menjadi andalan timnas Belanda generasi terkini.
Ketiganya lahir dari akar yang sama: komunitas Maluku yang bermigrasi ke Belanda dan membawa warisan budaya, termasuk kecintaan mendalam pada sepak bola.
“Belanda sangat berterima kasih atas segala kontribusi yang telah diberikan Maluku kepada negara kami. Maluku sangat penting bagi kami. Kami juga sangat berterima kasih atas dukungan yang terus diberikan masyarakat di sini kepada tim nasional kami,” ujar Marc.
Nonton Bareng Jadi Simbol Kedekatan Dua Negara
Kegiatan nonton bareng yang digelar Pemerintah Kota Ambon menjadi salah satu agenda kunjungan Marc kali ini. Bukan seremonial kosong, acara itu mencerminkan bagaimana hubungan Belanda-Maluku tetap hidup di level paling bawah, di warung kopi, di lapangan kampung, di layar besar yang dikerumuni ratusan warga.
Marc mengakui hubungan kedua wilayah memang bertumpu pada sejarah panjang, tapi ia menegaskan ikatan itu tidak berhenti di masa lalu. “Hubungan antara Maluku dan Belanda bersifat historis, tetapi juga masih sangat kuat hingga saat ini. Sepak bola menjadi salah satu alasan yang membuat kita merasa saling terhubung,” katanya.
Kunjungan ke Ambon ini bukan yang pertama bagi Marc. Beberapa bulan sebelumnya ia sudah menyambangi Maluku untuk mengenal potensi daerah lebih dekat. Dari kunjungan itu pula undangan nonton bareng datang, dan ia memilih hadir langsung.
Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta dan Pemerintah Kota Ambon kini memperkuat kerja sama yang tidak lagi sekadar bersifat administratif. Sepak bola, rupanya, ikut duduk di meja perundingan diplomatik itu.
Editor: Arif Budiman