Teras News — Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris meminta Kementerian Kesehatan mengkaji ulang rencana memasukkan penderita tuberkulosis (TBC) sebagai penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kekhawatiran utamanya: potensi penularan penyakit lewat wadah makan yang dipakai bersama.
Charles menyampaikan keberatannya di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (25/6). Ia tidak menolak intervensi gizi untuk pasien TBC, tetapi mempertanyakan apakah MBG adalah jalur yang tepat untuk itu. “Pada prinsipnya saya setuju dengan adanya intervensi gizi buat masyarakat rentan, termasuk yang penderita penyakit TBC. Tetapi apakah tepat memberikan MBG kepada penderita TBC? Saya rasa ini perlu dikaji kembali,” katanya.
Ada dua masalah teknis yang Charles soroti. Pertama, belum tentu ada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) — dapur atau titik distribusi MBG — di dekat tempat tinggal penderita TBC. Kedua, dan ini yang lebih krusial: soal wadah makan.
Baca Juga:
“Ompreng yang dipakai itu apakah nanti dikembalikan ke SPPG dan digunakan kembali? Atau nanti malah bisa menularkan kepada penerima manfaat lainnya yang bukan penderita TBC,” ujar Charles. TBC adalah penyakit menular yang menyebar lewat udara, terutama dari percikan dahak penderita.
Charles menyarankan Kemenkes berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah dan memanfaatkan jaringan puskesmas untuk menjangkau pasien TBC. “Ada cara-cara lain yang lebih tepat untuk bisa melakukan intervensi gizi kepada penderita TBC. Jangan semua-semua MBG,” tegasnya.
Usulan awal datang dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang pada Selasa (24/6) menyebut pemenuhan gizi bagi pasien TBC bisa mempercepat pemulihan sekaligus menekan angka kematian. Budi merujuk pada sejumlah penelitian internasional yang menunjukkan pasien TBC membutuhkan asupan gizi yang memadai selama masa pengobatan.
“Penderita TBC diobati selama enam sampai 12 bulan, itu daya tahan kondisi fisiknya lemah sehingga kalau dia bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup atau sedikit lebih, itu akan memperkuat dan mempercepat pemulihannya dan itu menyelamatkan nyawa karena TBC itu mematikan,” kata Budi.
Menkes mengaku sudah berbicara dengan Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryati Deyang soal wacana tersebut. Menurut Budi, ada empat kelompok yang paling rawan kekurangan gizi dan perlu diprioritaskan dalam program MBG: ibu hamil, ibu menyusui, balita di bawah lima tahun, dan penderita TBC. “Kalau empat target ini kecukupan gizinya dipenuhi, masalah kesehatan kita akan turun drastis. Buktinya, itu sudah ada di jurnal-jurnal internasional,” tuturnya.
Kini bola ada di tangan Kemenkes untuk merespons desakan DPR agar mengkaji mekanisme distribusi sebelum rencana itu resmi dieksekusi.
Berita Terkait
Editor: Arif Budiman