Berita

Vozinha, Kiper 40 Tahun Tanjung Verde yang Menangis di Piala Dunia karena Ibu Tertahan Visa

11
×

Vozinha, Kiper 40 Tahun Tanjung Verde yang Menangis di Piala Dunia karena Ibu Tertahan Visa

Sebarkan artikel ini

Teras News — Kiper Tanjung Verde, Vozinha, menangis usai negaranya menahan imbang Spanyol 0-0 dalam debut bersejarah di Piala Dunia FIFA. Air mata itu bukan sekadar luapan kegembiraan.

Pemain bernama lengkap Josimar Jose Evora Dias itu teringat kakek-neneknya yang telah tiada, dan ibunya yang gagal hadir langsung di stadion karena masalah visa. “Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek saya, dan sayangnya, mereka tidak ada di sini. Mereka meninggal beberapa tahun lalu. Mereka adalah segalanya bagi saya, bagi hidup saya. Saya juga menangis karena ibu saya tidak bisa hadir di sini karena masalah visa,” kata Vozinha kepada para wartawan seusai laga.

Ibu Vozinha Terpaksa Nonton dari Pulau Sao Vicente

Ana Candida Evora, ibu Vozinha, berprofesi sebagai petugas kebersihan rumah. Dia terpaksa menyaksikan pertandingan bersejarah itu dari Pulau Sao Vicente, Tanjung Verde, setelah gagal berangkat ke Amerika Serikat tepat waktu akibat kendala visa dan biaya perjalanan.

Kisah itu menjadi salah satu momen paling menyentuh di luar lapangan selama Piala Dunia berlangsung.

Debut Piala Dunia di Usia 40 Tahun, Karier Profesional Dimulai di Usia 25

Vozinha bukan kiper biasa. Usianya 40 tahun saat menjaga gawang di Piala Dunia, sebuah usia yang bagi kebanyakan kiper sudah masuk tahap pensiun. Perjalanannya ke sana pun tidak linier.

Dia pernah mengakui baru memulai karier profesional pada usia 25 tahun, jauh melewati usia standar pemain elite memulai karier. Ada masa-masa ketika dia mempertimbangkan untuk meninggalkan sepak bola sepenuhnya. Namun dia bertahan, terus berlatih, dan selama lebih dari satu dekade mengawal gawang tim nasional Tanjung Verde.

Ketika banyak rekan setimnya baru memulai karier senior, Vozinha sudah menjadi punggawa tetap skuad nasional. Dia menjadi simbol kesinambungan di tengah perkembangan sepak bola Tanjung Verde yang terus menanjak di level Afrika.

Tanjung Verde: Negara 500 Ribu Jiwa yang Frustrasi Spanyol di Piala Dunia

Tanjung Verde adalah negara kepulauan di lepas pantai Afrika Barat dengan populasi sekitar setengah juta jiwa. Lolos ke Piala Dunia saja sudah merupakan pencapaian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh banyak pendukungnya.

Melawan Spanyol, juara Eropa dan salah satu favorit kuat turnamen, Vozinha tampil luar biasa. Serangkaian penyelamatan krusial membuat tim asuhan pelatih Spanyol frustrasi dan memastikan Tanjung Verde pulang dengan satu poin pertama dalam sejarah mereka di Piala Dunia. Hasil imbang 0-0 itu dirayakan secara luas di dalam negeri, juga di kalangan komunitas diaspora Tanjung Verde yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Bagi Vozinha, poin pertama Tanjung Verde di panggung paling bergengsi dunia itu terasa lengkap dan tidak lengkap sekaligus. Lengkap karena mimpi yang diperjuangkan selama puluhan tahun akhirnya tercapai. Tidak lengkap karena orang-orang yang paling berarti dalam hidupnya tidak bisa menyaksikannya secara langsung.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Ratna Dewi