Teras News — Prospek perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menarik perhatian dunia setelah Presiden Donald Trump memberikan respons yang hangat terhadap pernyataan publik Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan antara kedua negara.
Trump menilai unggahan Araghchi tersebut sebagai sesuatu yang “sangat positif”. Penilaian itu diungkap oleh Axios, seperti dilaporkan kantor berita Anadolu.
Araghchi Buka Sinyal Lewat Unggahan Publik
Araghchi menyampaikan pernyataannya melalui kanal publik, bukan lewat jalur diplomatik tertutup. Ini terbilang tidak lazim dalam hubungan AS-Iran yang selama beberapa dekade terakhir nyaris tidak punya saluran komunikasi langsung. Langkah terbuka semacam ini kerap dibaca sebagai sinyal awal yang sengaja dikirim untuk menjajaki respons pihak lain.
Baca Juga:
Trump, yang dikenal kerap merespons isu diplomatik secara cepat dan lugas, tidak melewatkan momen ini.
Hubungan AS-Iran: Dekade Penuh Ketegangan
Ketegangan antara Washington dan Teheran sudah berlangsung sejak Revolusi Islam Iran pada 1979, yang diikuti krisis sandera dan pemutusan hubungan diplomatik. Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan semakin tajam setelah Trump pada masa jabatan pertamanya menarik AS keluar dari perjanjian nuklir Iran, yang dikenal sebagai JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action), pada 2018 dan memperketat sanksi ekonomi terhadap Teheran. Iran merespons dengan mempercepat program pengayaan uraniumnya.
Dalam konteks itulah pernyataan Araghchi dan respons Trump kini menjadi sorotan para diplomat dan analis kebijakan luar negeri.
Sejauh ini belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari Gedung Putih maupun Kementerian Luar Negeri Iran yang merinci substansi kesepakatan yang dimaksud. Publik dan komunitas internasional menunggu apakah sinyal ini akan berlanjut ke meja perundingan yang sesungguhnya.
Editor: Arif Budiman