Internasional

Harga Minyak Brent Tembus US$125 per Barel, AS Bentuk Koalisi Buka Selat Hormuz

10
×

Harga Minyak Brent Tembus US$125 per Barel, AS Bentuk Koalisi Buka Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini

Teras News — Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir, menekan ekonomi global dan menaikkan biaya bahan bakar di berbagai negara, seiring tertutupnya Selat Hormuz selama dua bulan terakhir akibat konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Minyak mentah jenis Brent sempat menembus US$125 per barel, sebagian dipicu faktor teknis menjelang jatuh tempo kontrak. Sejak awal tahun, harga Brent telah melonjak lebih dari dua kali lipat dan menyentuh titik tertinggi sejak Maret 2022. Lonjakan ini mendorong inflasi dan memperburuk tekanan biaya hidup di banyak negara.

Selat Hormuz Tertutup Dua Bulan, 20 Persen Pasokan Energi Dunia Terhambat

Selat Hormuz, jalur laut yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, masih tertutup dua bulan setelah perang meletus akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Penutupan itu menghambat sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Iran bersikeras akan terus mengganggu lalu lintas di selat tersebut selama masih berada di bawah ancaman. Teheran bahkan memperingatkan akan melakukan “tindakan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya” jika blokade AS terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran terus berlanjut.

Washington Galang Koalisi, Trump Dijadwalkan Terima Pengarahan Serangan Militer Baru

Menghadapi kebuntuan diplomatik, Washington mengambil jalur ganda. Menurut kabel diplomatik Departemen Luar Negeri AS yang dilihat Reuters, pemerintahan Trump kini aktif mengajak negara-negara lain bergabung dalam koalisi internasional untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Pada jalur militer, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan pada Kamis (30/4/2026) mengenai rencana serangkaian serangan militer baru terhadap Iran, menurut laporan Axios. Serangan itu diharapkan dapat memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.

AS juga memberlakukan blokade laut terhadap ekspor minyak Iran. Blokade itu menyasar sumber utama pemasukan ekonomi Teheran, sebagai alat tekan dalam kebuntuan negosiasi yang belum menemukan titik temu.

Trump Unggah Pesan Keras, Pakistan Coba Jadi Jembatan

Di ruang publik, Trump tidak menyembunyikan posisinya. Di media sosialnya, ia menulis, “Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera berpikir cerdas!” Unggahan itu disertai gambar dirinya mengenakan kacamata hitam dan memegang senapan mesin, bertuliskan “No more Mr. Nice Guy.”

Di balik layar, Pakistan bergerak sebagai mediator. Islamabad berupaya meredam eskalasi dengan memfasilitasi pertukaran pesan antara Washington dan Teheran mengenai kemungkinan kesepakatan.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Trump telah berdiskusi dengan sejumlah eksekutif industri minyak. Dalam pertemuan itu dibahas langkah-langkah yang telah diambil pemerintah untuk menstabilkan pasar minyak global.

Konflik yang telah menewaskan ribuan orang ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dengan harga energi terus bergejolak, tekanan terhadap ekonomi global semakin berat sementara jalur diplomasi masih tersumbat di antara ancaman-ancaman yang saling berbalas antara Washington dan Teheran.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma