Teras News — Jakarta, 18 Juni 2026 — Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Yasser Hassan Farag Elshemy, menyambut MoU (memorandum of understanding) antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani pada 18 Juni dini hari, sekaligus menegaskan posisi Mesir yang menempatkan stabilitas kawasan Teluk sebagai prioritas tak tergoyahkan. Pernyataan itu ia sampaikan di sela-sela Resepsi Hari Nasional Republik Arab Mesir 2026 di Jakarta.
“Keamanan nasional GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keamanan nasional Mesir sendiri. Sejak hari pertama, kami secara konsisten memberikan dukungan politik dan militer yang kuat kepada para mitra Teluk kami,” kata Elshemy.
MoU yang dimaksud merupakan kesepakatan jarak jauh yang mengakhiri konflik militer AS-Iran yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 — hampir empat bulan penuh. Dokumen itu memuat sejumlah kewajiban konkret: AS diberi tenggat untuk mencabut blokade angkatan laut, Iran diwajibkan memulihkan pelayaran di Selat Hormuz (jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia dan menjadi urat nadi ekspor minyak global), serta Iran berkomitmen tidak memperoleh senjata nuklir. Isu program nuklir Iran sendiri akan dirundingkan dalam kesepakatan terpisah, dengan tenggat 60 hari bagi kedua pihak untuk bernegosiasi.
Baca Juga:
Mesir, menurut Elshemy, bukan sekadar penonton dalam proses ini. Kairo membuka jalur komunikasi tidak resmi dengan Teheran sejak hari pertama konflik meletus, dan turut hadir dalam seluruh jalur negosiasi bersama Qatar, Turki, Pakistan, serta pihak AS dan Iran.
“Meskipun kami memahami logika strategis pihak Iran, kami berdiri teguh bersama saudara, saudari kami di negara-negara GCC,” ucap Elshemy.
Ia menegaskan keterlibatan Mesir tidak berhenti di sini. “Mesir sepenuhnya berkomitmen untuk mempertahankan peran diplomatik yang aktif ini selama fase negosiasi 60 hari mendatang,” jelasnya.
Pembicaraan teknis lanjutan antara AS dan Iran dijadwalkan kembali berlangsung pekan depan di Burgenstock, Swiss, setelah sempat jeda sementara. Jadwal itu dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Pakistan, salah satu pihak yang turut memfasilitasi komunikasi antara kedua negara.
Berita Terkait
Editor: Ratna Dewi