Teras News — Istri Gubernur Jawa Tengah, Nawal Yasin, mendorong penguatan edukasi kesehatan mental bagi para santri di Wonosobo sebagai langkah pencegahan kasus bullying, kekerasan, dan gangguan psikologis yang kerap terjadi di lingkungan pesantren.
Inisiatif ini muncul dari keprihatinan terhadap kondisi santri yang tinggal jauh dari keluarga dan rentan menghadapi tekanan sosial di lingkungan asrama. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan berbasis asrama, menempatkan santri dalam interaksi yang intens sepanjang hari — situasi yang bisa memicu gesekan jika tidak diimbangi pemahaman soal kesehatan mental.
Pesantren Jadi Titik Rawan Gangguan Psikologis Remaja
Kehidupan di pondok pesantren menuntut santri beradaptasi dengan aturan ketat, jadwal padat, dan jauh dari orang tua. Kondisi itu bisa menjadi beban psikologis tersendiri, terutama bagi santri yang baru masuk atau belum terbiasa hidup mandiri. Tanpa bekal pemahaman yang cukup soal kesehatan mental, tekanan tersebut berisiko meledak dalam bentuk kekerasan atau bullying antarpenghuni.
Baca Juga:
Nawal Yasin menilai edukasi kesehatan mental perlu masuk ke dalam rutinitas pembinaan santri, bukan hanya dijadikan program insidental. Pembekalan ini diharapkan membuat santri lebih mampu mengelola emosi, mengenali tanda-tanda stres, dan tahu ke mana harus meminta bantuan ketika menghadapi masalah.
Kekerasan di Pesantren Bukan Isu Baru
Kasus kekerasan di lingkungan pesantren bukan pertama kali mencuat. Sejumlah insiden yang pernah viral di media sosial menunjukkan bahwa praktik bullying, baik fisik maupun psikologis, masih terjadi di berbagai daerah. Tidak sedikit korbannya adalah santri junior yang dianggap lemah oleh seniornya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tampaknya menjadikan isu ini sebagai perhatian serius. Pelibatan Nawal Yasin dalam program edukasi ini menunjukkan pendekatan yang merangkul komunitas pesantren dari jalur non-formal, bukan sekadar regulasi dari atas.
Langkah serupa juga didorong oleh Kementerian Agama yang beberapa tahun terakhir gencar menyosialisasikan program perlindungan santri. Namun implementasinya di tingkat lokal sangat bergantung pada kesiapan pengurus pesantren masing-masing.
Di Wonosobo, program edukasi kesehatan mental bagi santri ini diharapkan bisa menjadi model yang nantinya diadopsi oleh pesantren-pesantren lain di Jawa Tengah. Seberapa jauh dampaknya akan terasa di akar rumput, bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan keterbukaan pengelola pesantren untuk menerima pendekatan baru dalam pembinaan santri.
Editor: Ratna Dewi