Berita

Longkangan Senepo Masuk 10 Besar KEPO, Ritual Jaga Sumber Air Belik Wonorejo di Ponorogo

13
×

Longkangan Senepo Masuk 10 Besar KEPO, Ritual Jaga Sumber Air Belik Wonorejo di Ponorogo

Sebarkan artikel ini

Teras News — Belik Wonorejo bukan sekadar mata air biasa bagi warga Desa Senepo, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo. Sumber air yang berada di Dukuh Papringan, Genuk, itu dijaga lewat ritual turun-temurun bernama Longkangan, sebuah upacara adat yang kini telah mendapat tempat di Karisma Event Ponorogo (KEPO) sebagai salah satu dari 10 besar event budaya terbaik kabupaten.

Ritual itu kembali digelar Sabtu (25/4/2026), bersamaan dengan program Bunda Menginap di Desa (Bunga Desa) yang membawa Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita beserta jajaran pejabat Pemkab menyaksikan prosesi secara langsung.

Prosesi Kendi hingga Gentong Tanah Liat

Longkangan dimulai ketika serombongan warga berpakaian tradisional Jawa berjalan menuju Belik Wonorejo untuk mengambil air menggunakan kendi dan periuk. Rombongan itu kemudian mengarak air dari sumber pegunungan tersebut menuju Balai Desa Senepo.

Ada satu peran sentral dalam prosesi ini. “Pemimpin rombongan pembawa air Belik Wonorejo disebut Potrojoyo,” kata Jamid, Kepala Desa Senepo, yang sudah menunggu kedatangan rombongan di depan balai desa.

Setelah serah terima, air dari kendi dan periuk dipindahkan ke gentong berbahan tanah liat. Lisdyarita, yang akrab disapa Bunda Lis, bersama Sekretaris Daerah Ponorogo mendapat kehormatan menuangkan air belik itu langsung ke dalam gentong. Jamid menjelaskan makna di balik tindakan itu: “Mengandung makna menyimpan air dari sumbernya ke tempat yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Ini juga simbol harapan agar Desa Senepo senantiasa diberi keselamatan, kesejahteraan, serta dijauhkan dari berbagai mara bahaya.”

Pohon Besar di Sekitar Mata Air Jadi Bukti Nyata

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, turut naik langsung ke lokasi Belik Wonorejo. Pemandangan yang ia temui cukup berbicara: pohon-pohon besar masih berdiri kokoh mengelilingi sumber air, tanda bahwa warga sekitar tidak mengizinkan penebangan di kawasan itu.

Judha melihat kekuatan Longkangan justru pada nilai kearifan lokalnya. “Sikap arif menjaga kelestarian alam berupa sumber air,” ungkapnya, merujuk pada bagaimana masyarakat Senepo secara turun-temurun beradaptasi dengan kondisi lingkungan pegunungan tempat mereka tinggal.

Kondisi geografis Desa Senepo yang berada di dataran tinggi membuat ketersediaan air menjadi kebutuhan vital. Longkangan lahir dari kesadaran itu, bukan sekadar ritual seremonial.

Longkangan Resmi Masuk Kalender Event Ponorogo

KEPO, atau Karisma Event Ponorogo, adalah program pemerintah daerah untuk mengkurasi dan mempromosikan event-event budaya unggulan di tingkat kabupaten. Masuknya Longkangan ke dalam 10 besar program ini menempatkan ritual dari desa kecil di Slahung itu sejajar dengan event-event budaya lain dari penjuru Ponorogo.

“Longkangan layak masuk Calendar of Event yang menempati 10 besar KEPO,” ujar Judha. Pengakuan resmi ini membuka peluang ritual Longkangan mendapat perhatian lebih luas, tidak hanya dari warga Senepo, tetapi juga dari pengunjung luar daerah yang mengikuti kalender wisata budaya Ponorogo.

Pemerintah Kabupaten Ponorogo kini menempatkan Longkangan sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus praktik pelestarian lingkungan yang hidup dan relevan, bukan sekadar warisan yang dipajang.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Arif Budiman