Berita

Lima Pusaka Ponorogo Diarak 5 Km di Bawah Cahaya Obor dalam Prosesi Bedhol Pusaka Grebeg Suro

2
×

Lima Pusaka Ponorogo Diarak 5 Km di Bawah Cahaya Obor dalam Prosesi Bedhol Pusaka Grebeg Suro

Sebarkan artikel ini

Teras News — Ribuan warga memadati tepi jalan di sepanjang rute sejauh 5 kilometer, berdiri diam dalam gelap saat rombongan bregada melintas tanpa alas kaki, hanya diterangi nyala obor. Penerangan jalan umum sengaja dipadamkan. Itulah suasana Ponorogo pada Minggu (14/6) tengah malam, ketika prosesi Bedhol Pusaka Grebeg Suro kembali digelar.

Lima pusaka milik Kabupaten Ponorogo dibawa keluar dari Pringgitan, yakni sebutan untuk rumah dinas bupati, menuju kompleks makam Batoro Katong. Kelimanya adalah Tombak Kyai Tunggul Nogo, Angkin Cindhe Puspito (kain sabuk pusaka), Songsong Kyai Tunggul Wulung (payung kebesaran), Tombak Kyai Pamong Among Geni, dan Tombak Kyai Bromo Geni.

Ritual Kekancingan Buka Prosesi Bedhol Pusaka

Sebelum pusaka-pusaka itu dibedhol (diambil dari tempat penyimpanannya), Pelaksana Tugas Bupati Ponorogo Lisdyarita menerima kekancingan berupa rangkaian bunga melati sebagai tebusan simbolis. Selama prosesi berlangsung, ia mendapat gelar kehormatan Kanjeng Bupati, dan seluruh komunikasi dilangsungkan dalam Bahasa Jawa Krama Inggil, tingkatan bahasa Jawa yang paling halus dan biasa dipakai di lingkungan keraton.

Iringan musik berasal dari Keraton Surakarta, yang membunyikan tetabuhan khas sepanjang arak-arakan. Ratusan bregada (prajurit upacara tradisional) berjalan tanpa alas kaki dalam keheningan. Tidak ada sorak-sorai. Warga pun larut dalam diam.

Pusaka Diinapkan di Makam Batoro Katong, Lalu Dijamas

Kelima pusaka tidak langsung dikembalikan setelah arak-arakan selesai. “Kelima pusaka Ponorogo akan diinapkan semalam di komplek makam Batoro Katong sebelum dikirab dalam Pawai Lintas Sejarah. Pusaka-pusaka ini akan dijamas untuk disimpan lagi di Pringgitan,” kata Lisdyarita, yang akrab disapa Bunda Lis.

Dijamas berarti dimandikan atau dibersihkan secara ritual, sebuah tradisi perawatan benda pusaka yang lazim dalam budaya Jawa. Prosesi penjamasan menandai akhir dari rangkaian Bedhol Pusaka sebelum kedudukannya kembali ke tempat semula.

Penanda Perpindahan Pusat Pemerintahan Ponorogo

Grebeg Suro bukan sekadar perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharam. Di Ponorogo, ritual ini juga menjadi pengingat sejarah perpindahan pusat pemerintahan kabupaten dari kawasan yang dikenal sebagai Kota Lama. Bedhol Pusaka menjadi titik awal kirab yang merepresentasikan perjalanan itu.

“Melalui kirab pusaka, kita berupaya mewariskan kepada generasi muda nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta kecintaan terhadap budaya lokal,” ujar Bunda Lis.

Tahun ini prosesi berjalan tanpa hambatan berarti. Warga dari berbagai penjuru kota hadir menyaksikan, menjaga tradisi yang terus hidup di tengah perubahan zaman, dari generasi ke generasi, dalam sunyi dan cahaya obor.

Penulis: Ratna Dewi
Editor: Surya Dharma