Berita

Harga Beras Fortifikasi Rp90.000–Rp130.000 per 5 Kg, Aprindo Desak Potong Rantai Distribusi

10
×

Harga Beras Fortifikasi Rp90.000–Rp130.000 per 5 Kg, Aprindo Desak Potong Rantai Distribusi

Sebarkan artikel ini

Teras News — Harga beras fortifikasi di gerai ritel modern Indonesia saat ini terpaut jauh — berkisar antara Rp90.000 hingga Rp130.000 per kemasan lima kilogram, tergantung merek dan jalur distribusinya. Rentang harga yang lebar itulah yang mendorong Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menuntut pemangkasan rantai distribusi beras fortifikasi agar produk pangan bernutrisi itu bisa dijangkau lebih banyak konsumen.

Desakan itu disampaikan Direktur Eksekutif Aprindo Dasep Suryanto dalam diskusi panel bertajuk “Making Quality Fortified Rice Affordable in Retail Market” di Jakarta, Rabu (18/6). Dasep menyebut persoalan utama bukan semata kualitas produk, melainkan panjangnya jalur yang harus dilalui beras sebelum sampai ke rak supermarket.

“Kita akan membantu dari aspek distribusi supaya rantai jejaringnya tidak terlalu panjang, karena kalau semakin panjang proses semakin tinggi biayanya,” kata Dasep.

Solusi yang diusulkan Aprindo konkret: hubungkan langsung penggilingan padi dengan peritel modern, tanpa melewati terlalu banyak perantara. Dengan cara itu, biaya di setiap titik rantai pasok bisa dipangkas, dan selisihnya idealnya berdampak pada harga di kasir.

Dasep mengakui pasar ritel saat ini justru lebih banyak dibanjiri beras fortifikasi ketimbang beras premium biasa. “Saat ini di ritel kita kesulitan mendapatkan beras premium. Yang sekarang ada justru banyak beras fortifikasi, tetapi beras fortifikasi ini harganya range-nya sangat lebar,” ujarnya.

Aprindo turut mengusulkan adanya kebijakan yang menjaga rentang harga antarproduk beras fortifikasi dengan kandungan gizi serupa agar tidak terlalu jauh. “Kita ingin masyarakat dengan mudah mendapatkan beras yang mengandung nutrisi yang cukup, tetapi dengan harga yang terjangkau,” ucap Dasep.

Peritel, kata Dasep, juga siap ambil bagian dalam edukasi konsumen soal manfaat beras fortifikasi — produk beras yang diperkaya zat gizi seperti zat besi, zinc, dan vitamin B — agar keputusan beli konsumen tidak semata bergantung pada label harga.

Dorongan Aprindo itu sejalan dengan posisi pemerintah. Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah mendorong pengawasan harga beras fortifikasi agar produk ini tidak lepas ke pasar dengan harga yang menutup akses masyarakat bawah. Pemerintah mencatat konsumsi beras nasional mencapai sekitar 87 kg per kapita per tahun — angka yang menjadikan beras sebagai media fortifikasi paling efektif untuk memperbaiki gizi masyarakat tanpa mengubah kebiasaan makan sehari-hari.

Bapanas juga menekankan pengembangan beras fortifikasi harus ditopang kesiapan seluruh rantai pasok: dari industri kernel beras fortifikan, penggilingan padi, sistem distribusi, sampai pengawasan mutu produk di hilir.

Direktur Utama PT Jatim Grha Utama Mirza Muttaqien, yang turut hadir dalam diskusi yang sama, menilai fondasi regulasi sudah tersedia. Pemerintah telah menerbitkan sejumlah regulasi dan standar, termasuk SNI untuk kernel beras fortifikan. Fokus selanjutnya, menurut Mirza, adalah memperluas adopsi dan pasar produk tersebut.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Ratna Dewi